reuni s.d. (seperti coret2an template buku kenangan, don’t forget to remember)


Lebih dari sebulan yang lalu, seorang teman SD menelpon gue. Dhita namanya. By the way, dia akan murka kalau namanya ditulis tanpa “h”. Dia waktu itu minta nomor kontak teman2 se-SD selain yang dia udah punya. “Yuk, ngumpulin anak2 SD kita,” katanya. Lucu juga tuh, pikir gue. Reunian SD. SD kami gak terlalu besar dan gak kecil2 amat juga sih. Ada dua kelas, A & B, yang kalau ditotal lulusan kami ada kurang lebih 70-an orang. Terakhir kali, tahun 2004 kami sekitar 10 orang berhasil ngumpul ngopi2 bareng. Temen2 yang lain juga ada yang berhasil ngumpul nongkrong bareng. Nah untuk yang kali ini, gue, Dhita, Mila dan Riri menggabungkan data-data kontak yang dipunyai masing2 supaya yang bisa terkumpul lumayan banyak.

Mulailah kami mengontaki teman2 se-SD yang terlacak di wahana social networking seperti Friendster dan Facebook. BTW lagi, apapun agamanya perancang Friendster dan Facebook mereka akan mendapat karunia dan berkah karena membantu jutaan orang menjalin silaturahmi (termasuk kami, alumni SD Triguna) yang mungkin tidak terlacak tanpa karya mereka. Setelah dikontak, sejumlah nama bermunculan dengan antusiasme yang sama untuk ketemuan, sesederhana menjalin silaturahmi. Ketahuan di situ ternyata temen kami ada yang sedang mencari sesuap kentang di Amerika dan ada juga yang sedang berguru kepada kangguru di Ostrali. Pengennya sih ngirimin mereka tiket supaya bisa pulang sehari dua hari ke Jakarta, namun apa daya, mengirim diri sendiri nonton The Cure di Singapore pun gue gak mampu.

Untuk menyiapkan reunian kecil2an itu, beberapa teman2 ketemuan ngobrol kecil2an di salah satu pojok citos. Kami bertukar gossip, saling update, dan nyiapin segala macem yang berhubungan dengan tempat itu. Ambar dinobatkan jadi ketua (maskot, sih sebenernya padahal) dan Mila sebagai wakilnya.

Pada saat itu kepilih satu restoran siap saji ayam goreng negeri dengan lambang kakek2 bule jenggotan (santapan yang kalau Anda santap setiap minggu, akan menghasilkan efek yang gak oke untuk kesehatan) Restoran itu dipilih karena lokasinya cukup strategis, ada ruang terbuka untuk perokok dan harganya cukup terjangkau. Disepakatin pula bahwa tiap orang harus bawa kado dengan dibungkus kertas coklat (atas nama nostalgia sampul coklat buat buku tulis di masa SD).

Tapi ternyata, oh mama oh papa, ternyata pada hari yang sama yaitu 2 Agustus, kawasan Kemang ditutup untuk festival yang notabene akan memacetkan kawasan sekitarnya. Pada akhirnya forum kecil reuni SD ini memutuskan untuk memindahkan tempat ketemuan di kawasan lainnya. Yang terpilih adalah di kawasan Gandaria

Hari-ha. Beberapa teman yang tadinya udah confirm dateng terpaksa membatalkan kehadirannya karena tuntutan profesi. Ada yang tiba2 harus mengganti ban traktor, ada yang harus ngecat api Monas, ada yang tiba2 musti harus nguras kolam renang, dan lain sebagainya. Yah namanya juga,cari rejeki.


Anyway, datanglah teman2 SD itu satu-persatu. Ada yang wajahnya bisa dibilang gak beda jauh dibandingkan waktu masih SD dulu dan ada juga yang udah berubah. Maklum, udah lulus SD 20 tahun yang lalu. Total hari itu ada 21 orang alumni SD Triguna tahun 1988 yang dateng. Ada Wiwiek, Mila, Sherika, Riri, Kelly, Ambar, Rina, Deni, Ibnu, Anggi, Triana, Eri, Boy, Figi, Tina, Dhita, Arin, Heru, Ade, Andre, dan saya sendiri. Btw, Sherika adalah kontingen dengan jarak tempuh terjauh, karena sekarang beliau berkegiatan karya kriya di Bandung lautan FO. Katanya dia ke Jakarta sekalian mo liat Festival Kemang. (upss. Revisi…. Ade Riyanto protes, karena tyt dia berangkat dari Jogja, jadi gelar kontingen jarak tempuh terjauh menjadi haknya si Ade =) Anyways, Mudah2an di kesempatan berikutnya lebih banyak lagi jumlah anak2 angkatan kami yang bisa ngumpul.

Kami makan bareng satu meja panjang, Saling update, tukeran cerita macem2, dan juga menceritakan lagi kejadian2 geblek zaman SD dan TK.

“Elu kan dulu waktu SD digeng yang centil2”

“Gue dulu males maen sama elo soalnya ingus lo kemana2 sih!”

“Ah elo juga, salah sendiri waktu SD elo bau.”

“Gue masih dendam sama elo karena waktu elo yang berisik, yang kena timpuk pengapus dari guru ya gue!’

“Gue mo ngaku, gue waktu SD dulu punya kesan spesial sama dia”

“Waktu SD dulu muke lo judes sih, eh taunya elo emang judes.”

 

Kami emang udah gak ketemuan 20 tahun. Obrolan tentang zaman majapahit itu nyampur2 sama obrolan tentang kegiatan kerjaan, hobi dan pengalaman lainnya. Kayak kaset video yang dimakan zaman, obrolan hari itu seperti diselingi sama rekaman2 kejadian di masa kami SD yang berkelebatan tapi gak ada bukti fotonya. Maklum, pada masa itu, orang yang setiap hari bawa kamera saku kemana2 cuma James Bond seorang. Seneng rasanya bisa berbagi lagi sama temen2 masa piyik2 dulu. Afterall, we’re all twenty years older wiser.

Seperti coret2an template buku kenangan, don’t forget to remember.

Foto2 lebih jelas ada di bagian foto2 reuni SD

11 thoughts on “reuni s.d. (seperti coret2an template buku kenangan, don’t forget to remember)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s