edinburgh international book festival 2019, membaca!

Edinburgh

She moves in mysterious ways, life is.

Pertengahan Juli kemarin tiba-tiba telponan dan emailan mengenai berangkat ke Edinburgh untuk tampil baca puisi. Jadi, yang mengundang saya adalah Kolektif Neu! Reekie! Siapakah? Mundur lagi timelinenya kalo begitu. Pada tahun 2016, saya berpartisipasi dalam acara baca puisi yang diselenggarakan oleh British Council Indonesia bersama dengan Post Santa featuring Mikael Johani. Saya jadi salah satu penampil pada petang dan malam itu. Teman-teman lain yang tampil waktu itu adalah Sinar Ayu Massie, Benk Riyadi dan Farhanah. Kami jadi grup-grupan dadakan namanya Akamsi! yang tandeman bareng Neu! Reekie! yang waktu itu diwakili dua pendirinya, Kevin Williamson dan Michael Pedersen. Cerita singkat tentang 2016 ada di halaman sindang.

Balik ke cerita 2019, diriku dihubungi pihak BC dan Edinburgh International Book Festival (EIBF) 2019 untuk tampil di Edinburgh. Secara materi kreatif dan penampilan, tek-tok dengan Neu! Reekie! Eladalah. Jadwal pas. Whoa! Jadilah daku urus ini urus itu terkait dokumen dan lain sebagainya. Yas. Berangcyute! Benky juga menyanggupi berangkat dan kami akan bareng di sana. Berangkatlah gue pada sebuah siang yang cerah dari kawasan selatan Jakarta, naek MRT Jakarta, lanjut Railink dari BNI City ke SHIA, naek pesawat, bobok, makanan enak, minum anggur, bobok, nonton film, transit Doha, naek bis-bisan antar terminal, naek pesawat lagi, bobok lagi, minum anggur lagi, lalu mendarat di sunny chill 16° C Edinburgh.

Suddenly Edinburgh. Home of the Brave! Me, student of life, day of a tourist. Me, a tourist for life. Masuk kota Edinburgh dari Airport dengan Tram. Yang keren dan praktis. Memandangi padang rumput yang hijau sedikit gosong sepanjang perjalanan. Mendaratlah di tengah kota, tepatnya di stasiun St. Andrew Square. Nah perjalanan jalan kaki Edinburgh dimulai, dengan nyasar haha. Mana bawa dua tas ransel raksasa. Kasian ini orang Asia baru mendarat pertama kali di Edinburgh, ibukotanya Trainspotting. Tanya pertama kali ke ibu-ibu, gak diwaro. Setelah itu, tanya lagi sama kakak-kakak diarahkan ke jalan yang kayaknya benar. Menuju stasiun Waverley karena saya nginep di kawasan Old Town.

Summer of festivals here. Musim panas is here, yang tetep sangat dingin buat orang Indon domisili Jakarta kayak daku. Edinburgh rame banget. Kata orang sini, saat musim festival, kota yang aslinya berpenduduk lima ratus ribu jiwa ini tiket kunjungan festival bisa mencapai tiga juta lembar. Pada bulan Agustus, Edinburgh Festival Fringe adalah festival pertunjukan terbesar yang menyedot penonton. Pertunjukannya bisa berupa teater, komedi, tari, sirkus, kabaret, musikal, spoken word dan lain sebagainya. Selain itu ada delapan jenis festival lain. Nah salah satunya buat book geek ya Edinburgh International Book Festival, yang diselenggarakan sejak tahun 1983.

To the sidewalks of Edinburgh is one thing. But to be here for EdBookFest with poems, I’m beyond stoked.

Jadi, saya akan tampil di Unbound. Indonesia di Edinburgh International Book Festival (EIBF) 2019. Sebagai gambaran buat kita-kita, festival ini formatnya adalah tenda-tenda dengan talk show sebagai sajiannya, ada sekitar lima tenda berkapasitas ratusan penonton. Dan jadwal acara sangat padat dari pagi sampai malam. Jadi intinya book talk terus. Beberapa book talk dilanjutkan dengan sesi tanda tangan. Tamu pembicara tahun ini antara lain Arundhati Roy dan Salman Rushdie. Well dengan daku dan Benky, Indonesia represent!

Saya lanjutkan ceritanya secara kronologis yes. Pagi itu saya sempetkan jalan-jalan ke Calton Hill bukit tengah kota dengan pemandangan yang aduhai. Dari situ tampak padatnya kota Edinburgh yang terkonservasi, sekaligus crane-crane raksasa yang membangun sesuatu. Dari Calton Hill pula, tampak Arthur’s Peak, gunung api retak setinggi sekitar 250 m yang berdiri sombong di kejauhan. Saya pengen mendakinya, tapi waktu terbatas dan takut capek haha. Saya akan datang lagi ke Edinburgh untuk mendaki anak gunung api itu. Yes. Setelah itu, saya sempetin ketemu Tika, temen dari zaman kuliah di depok. Kami makan siang bareng ditemani temen setia Tika, anjing dengan ras sesuatu, namanya Whiskey. Tika sudah beberapa tahun mencari sesuap berlian di Edinburgh. Kota yang hangat dan gemes ini. Sambil nyasar menuju tempat makan yang dijanjikan, saya nyasar-nyasar ketemu toko buku kecil yang cukup ciamik, namanya Golden Hare Books. Ngobrol sedikit sama penjaga tokonya. Kemudian saya dikasih tau sama Michael bahwa toko buku independen itu cukup terkenal dan terpandang. Toko buku itu malah telah menyiapkan festival buku dalam beberapa bulan ke depan. Seru sekali mestinya.

Balik ke Edbookfest. Saya menyempatkan diri hadir di sesi berjudul “Understanding China” dengan pembicara Julia Lovell (penulis sejarah) & Xinran Xue (penulis fiksi dan memoir) Keduanya memberikan latar belakang pengetahuan dari sudut pandang “orang luar” dan “orang dalam” mengenai orang China saat ini, yang sangat dipengaruhi oleh Maoisme. Sesi tanya jawab sore itu sangat menarik. Pada malam harinya, saya menghadiri sesi puisi, “Finding Home’ dimana beberapa penyair dari Nigeria dan penyair Skotlandia berlatar belakang negara lain mengungkapkan pengalaman tentang persamaan, perbedaan, diskriminasi dan rasisme dari kacamata orang pertama, lewat pembacaan puisi mereka. Yang tampil pada malam itu adalah, Efe Paul Azino, Hannah Lavery, Yomi Sode dan Wana Udobang.

Scottish Poetry Library

Sebagai bagian dari perkenalan skena puisi Edinburgh 101, Michael mengajak saya dan Benk memelipiri kota menuju kawasan old town yang tujuan akhirnya adalah Scottish Poetry Library (SPL). Di SPL kami disambut Direktur Asif Khan yang membawa kami untuk tur dari rak-rak buku, ruang penyimpanan ke ruang bawah tanah yang menyimpan sejarah puisi Skotlandia nan panjang. Koleksi buku-buku (tentu saja), jurnal, phamplets, karya visual, dan kami juga melihat meja kerja dan sebotol Absynthe old but new milik salah satu Makar Skotlandia, Edwin Morgan. (Apa itu Makar, sila bersegera googling, thank you very much!) Pada kunjungan itu, saya berkesempatan menyerahkan chapbook pertama saya “Verses of a Kind Reminder”, terjemahan Inggris dari buku saya yang saat itu belom terbit yaitu “Syair-syair Sekedar Mengingatkan”. Tak lupa juga saya serahkan “Non-Specific” karya ma dearest frienden Gratiagusti Chananya Rompas. Kedua chapbook itu diterima Asif sebagai koleksi dari Scottish Poetry Library. Semoga bermanfaat. It is such an honor. You orang teman-temanku kalau ke Edinburgh mesti mampir ke Scottish Poetry Library too.

Choose us. Choose life. Choose mortgage payments atau “Worst Toilet in Scotland” –

Penggemar Trainspotting pasti bakal langsung mengenali istilah-istilah tersebut. Trainspotting, salah satu film favorit orang orang dari zaman 90-an. Seperti itu ya. Kisah-kisah itu selalu ada di kepala saya seperti selama-lamanya. Ediburgh. Selama Agustus kota ini penuh penggemar seni dan wisatawan. Festival Fringe lagi berjalan, dan Anda dapat melihat banyak publikasi teater/tari/komedi/spoken words di setiap sudut kota ke manapun kamu melempar pandangan. Yang menarik perhatian saya adalah parodi dan tribute untuk / film. Dan kemudian saya terpana melihat poster Trainspotting! (Lust for Life and Born Slippy #nowplaying #inmyhead) Kemudian buka google google untuk info dan petunjuk, dan saya lari (seperti Renton) ke tiket box. Yas! Tiket terakhir yang sesuai dengan jadwal telah berhasil saya amankan.

Trainspotting Live! Di sebuah gedung pertunjukan megah, kami diarahkan ke lantai bawah, ternyata di sebuah lorong gelap seperti tak terurus. Ruanganya panjang lebar sekitar empat meter, tinggi empat meter dan panjangnya saya gak tau persis, mungkin sekitar panjang lapangan basket. Penonton duduk di sepanjang lorong, dan di dua ujung lorong… “panggung di tengah itu, seperti sebuah runway fashion.. Kami masuk ruangan, dan para pemeran menyambut dengan stick glow in the dark lagi joget-joget dansa semacam underworld yang menyalak-nyalak berdentum di jantung. Pertunjukkan berlangsung 75 menit, lengkap dengan adegan “Worst Toilet in Scotland” berkecepretan, bed cover dengan eek masih menempel. Dan hal-hal yang membuat pertunjukan ini mustahal dimainkan di Indonesia. Sebelum bakal dimainkan di Indonesia, saat posternya menyebar bakal disergap KPAI, KAI, KPU, FPI, Forkabi dan you name it semuanya.  Dan shoooow, sangat sulit dipercaya! Keren ba’ish.

Hibernians Edinburgh

Pergi ke Inggris, berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak boleh memulai obrolan dengan penduduk setempat tentang sepak bola. Ini semacam agama di sini. Bisa berakhir nestapa kalau salah-salah ucap. Ya itu. Di sisi lain, penggemar sepakbola Indonesia bermimpi pergi ke Inggris untuk menonton pertandingan sepak bola, atau berfoto selfie di depan stadion favorit mereka. Jadi kami semacam melakukannya juga. Kami pergi ke pertandingan bola, tetapi punten nuwun sewu, bukan nonton tim arus utama yang semenjana yaa.

Akhir pekan untuk orang Edinburgh, orang kelas pekerja adalah  jalan kaki ke pertandingan Hibs. Hibernian FC, klub sepakbola profesional yang berbasis di Leith, Edinburgh, Skotlandia. Kevin adalah bagian dari Hibs dan mengajak kami nonton pertandingannya. Dengan penuh luap perasaan, ia ceritakan kisah lengkap ketika pada tahun 2016 Hibs memenangkan Piala Skotlandia setelah 100 tahunan lebih tidak pernah menang. Hibs menang! Para penggemar menyerbu lapangan pertandingan. Di flatnya, Kevin masih menyimpan satu jumput rumput lapangan dari permainan. Sambil cerita, kami terus berjalan menuju stadion, menikmati nyanyian dan bersumpah serapah untuk musuh juga. Kami bersorak di bawah matahari Leith yang hangat oh, sangat menyenangkan.

Unbound. Indonesia with Neu!Reekie!

Malam penampilan Unbound. Indonesia telah tiba! Kami bersiap-siap di Spiegeltent, lokasi sesi kami. Intinya adalah Neu! Reekie! berbagi pengalaman mereka menjelajahi Indonesia, dalam hal ini Ubud, Jakarta dan Medan. Mereka pasang video, Volcano Bingo, dan never ending garing jokes. Sebagai persiapan sedikit banyak mencoba nonton beberapa penampilan video pembacaan puisi yang dilakukan NeuReekie sebelumnya atau beberapa komunitas lain di Edinburgh. Dengan pengetahuan itu, saya memulai bagian pembacaan saya dengan sedikit 101 mengenai Indonesia, hubungannya dengan Inggris Raya, dengan humor ‘garing’ Inggris.

Sungguh menyenangkan! Anxiety attack, tho. Ha! MENYENANGKAN. menyenangkan. menyenangkan. Masih merinding sampai sekarang. Neu! Reekie! adalah local gods. Panggung, suara kami, kami sampaikan pesan. Pengalaman yang sangat seru dan menegangkan. Pengalaman pertama menampilkan karya saya di negeri orang. Di Inggris pula, untungnya saya merasa Inggris koboy saya cukup untuk menampilkan karya saya. Jadi ya udah, sikat aja. Saat kunjungan ini saya baru menyadari betapa pentingnya puisi bagi masyarakat Skotlandia, khususnya Edinburgh. Banyak sekali acara pembacaan puisi setiap saat dalam satu tahun berjalan. Sebagai gambaran, Michael Pedersen, salah satu dari pendiri Neu!Reekie! dapat tampil lebih dari lima kali sebulan sebagai penyair undangan di kota-kota Skotlandia, Inggris dan sekitarnya. Kami tampil dibuka dan ditutup oleh penyanyi Emme Woods. Old soul dengan lagu-lagu yang menyayat hati. Pada perjalanannya, penonton merespon pancingan humor dan pertanyaan yang saya sampaikan. Saya merasa senang dan terhormat ngobrol setelah sesi dengan beberapa penonton yang hadir. Dua tiga orang mengungkapkan paparan awal saya tentang Indonesia membuat mereka ingin cari tahu lebih lanjut tentang Indonesia. Dear @idbritisharts @edbookfest @neureekie @emmewoodsmusic, terima kasih Edinburgh. As soon as forever is through, I’ll be over you

Edinburgh.

Choose life!

Iklan

bareng sheila, kolaborasi pekan komik vice 2019

Apa yang tersimpan di kepala manusia, sayangnya, tidak selalu kenangan manis. Ada penyesalan, kerinduan, duka, dan cinta yang tak tak bisa lagi kembali. Yoshi Fe dan Sheila Rooswitha Putri menyelami penyesalan dan kenangan dari semangkok es krim dingin di Garut.”

… begitu kira-kira pengantar karya kolaborasi gue dan Sheila.

Pada bulan Februari 2019, Vice Indonesia mengajak beberapa ilustrator dan penulis untuk membuat karya kolaboratif dalam rangka Pekan Komik VICE 2019. Untuk itu gue dengan senang hati bekerja sama dengan Sheila yang menghasilkan komik Garut Lights, Drunken Iceyang ide ceritanya dari puisi gue dengan judul yang sama. Sebelumnya gue berbagi tiga karya ke Sheila untuk projek ini, dan dia pilih judul ini.

Lalu jadilah kami garap bareng. Ngobrol-ngobrol dikit, ditemani roti bakar selai kaya dan kopi susu hangat, sret srat srut, Sheila langsung orat-oret gambaran awalnya yang… gokil menakjubkannya. Coretan beliau memberi nyawa yang nelanggutkan sukma, begitu kira-kira, ekspresi kata-kata ala Katon Bagaskara harus gue pinjam untuk mengungkapkan goresan kuas beliau.

Gue lanjutkan dengan penggalan tulisan pengantar komik kami di Vice Indonesia yaa, “Sheila Rooswitha Putri, menerjemahkan gagasan Yoshi menjadi komik yang bisa kalian baca di bawah. Sheila terhitung komikus kawakan Tanah Air. Buku perdananya yang membuatnyanya dikenal publik Cerita Si Lala, terbit lebih dari satu dekade lalu. Karakter gambarnya dengan karakter garis dan lekukan khas itu, seakan punya daya magis bagi para pembaca.

Sila! Enjoy karya kami, ‘Garut Lights, Drunken Ice selengkapnya, dan karya-karya teman-teman Indonesia dan Asia Tenggara lain dalam Pekan Komik VICE 2019 yang beda-beda banget sentuhannya.

Sekali lagi, Silaken enjoy.

“kakak-kakak poetry komersial”, buat edo wallad, farhanah, waraney rawung

Minggu ketiga bulan Januari 2019. “Ada pesta di toko yang harus selesai sebelum kiamat” di Kios Ojo Keos.

Acaranya adalah ngobrol puisi bareng Edo Wallad “Pesta Sebelum Kiamat”, Farhanah “Masuk Toko Keluar Di Tokyo” dan Waraney Herald Rawung “Ada Propaganda Cinta Yang Harus Selesai Sore Ini” which is, which are adalah teman-teman saya. Itu adalah judul-judul buku puisi mereka dalam rangkaian Pujangga Series.

Dalam sebuah paragraf singkat, gue bisa bilang bahwa karya-karya Edo bernuansa gelap-gelap bandel. Karya Fani terasa observatif dengan kebijaksanaan masa kini yang sering terlupa. Karya-karya Oom Ney cenderung telanjang tentang perjuangan kerah putih kota nan lusty. Cek toko buku terdekat atau toko daring kesayangan, kalau Anda ingin mendapatkan buku mereka.

Kembali tentang acara sore itu. Farhanah alias Fani mengajak saya untuk ikutan baca di acara itu. Baca punya baca, saya tertarik dengan “Jeda Komersial”-nya Edo, “Istirahatlah Kakak-kakak”-nya Fani, dan “Fuck Poetry, Baby”-nya Ney. Karya-karya itu nempel di kepala gue, dengan adanya satu bagian puisi mereka masing-masing yang terus mengiang bagaikan bagian chorus dari sebuah lagu pop. Dalam rangka meramaikan acara sore itu, dari ketiga karya tersebut berupa sebuah karya penampilan semacam mash up puisi dan lagu, musik dan tari “Kakak-kakak Poetry Komersial.”

Buat gue, semoga ini jadi awal tahun 2019 yang bersemangat dari sisi artistik maupun nafkahistik. Aamiin. Dan makin rajin nulis blog, hahahahaha! Enjoy. Videonya direkam Fani. Foto-foto dari Festi. Makasi banyak Asra Ojo Keos untuk bantuannya. Sila!

whatsapp image 2019-01-14 at 01.57.04

david bowie, rest in peace

David Bowie (8 Jan 1947-10 Jan 2016), wafat dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-69. Dunia kehilangan tokoh musik besar. Bintang Glam yang populer dengan lirik-lirik tentang bintang-gemintang. Ia salah satu bintang di tataran depan dengan penampilan rias wajah serta busana aneh-aneh yang androgini. Singkat cerita, untuk mengenang beliau, berikut ini adalah jejak karya Bowie yang saya ingat terus;

  1. Blue Jean <1984>. Bagian awalnya keren saat dia muncul dengan tata rias seperti lukisan dua dimensi, tiba-tiba melotot. Joget-joget kecil ala pertengahan 80-an. Tidak ngerock dengan komposisi yang gak ribet. Seingat saya inilah lagu Bowie yang saya akrabi, makasih kepada America’s Top 10 edisi Blast from the Past, dipandu oleh Casey Kasem.
  2. Don’t Let Me Down and Down (Indonesian Ver; Jangan Susahkan Hatiku) <1993> Say what? Bowie nyanyi lagu Indonesia? Ketika pertama kali mendengar berita ini pun saya nggak percaya. Di album Black Tie White Noise, ada lagu berjudul Don’t Let Me Down And Down, dan di kaset yang beredar di Indonesia terdapat versi Indonesia dari lagu ini. Merinding juga pas mendengar lagu ini pertama kali, belepotan Indonya. Tapi ini The Thin White Duke himself. Untungnya saya punya kasetnya, tersimpan rapih di gudang. Membaca-baca di Internet, konon Bowie bisa nyanyi lagu berlirik Indonesia ini karena komunikasi dengan Setiawan Djodi. Ada yang bisa klarifikasi?
  3. Space Oddity <1969> tentunya, siapa tak kenal lagu ini. Sepi, sendiri. Multi-tafsir. Menurut Anda, apa cerita lagu ini?
  4. I’m Afraid of Americans <1997> Bergaya Industrial Rock, aliran terkini saat itu. Diproduseri oleh Brian Eno, diramu ulang oleh Trent Reznor dari Nine Inch Nails. Nah, Bowie + Eno + Reznor gak mungkin bisa salah.
  5. Bowie sebagai Raja Goblin di film Labyrinth (Jim Henson, 1986) Bowie beradu akting dengan Jennifer Connely remaja dan monster-monster karya Jim Henson. Film fantasia yang menarik, patut disimak.
  6. Bowie sebagai Warhol di film Basquiat (Julian Schnabel, 1997). Bowie sebagai Warhol, ini hal yang susah dinikmati sih. Karakter Bowie terlalu kuat dan susah lesap menjadi Warhol. Alih-alih menikmati Bowie sebagai Warhol, kita nikmati saja Bowie sebagai Bowie yang sedang berakting sebagai Warhol.
  7. Jangan lupa lagu-lagunya yang dibawakan oleh artis lain; Heroes oleh The Wallflowers, Space Oddity oleh Saigon Kick, dan The Man Who Sold The World oleh Nirvana.
52b59fdf-7611-4d07-adce-769333038e1d - Copy

Ini adalah foto teman saya @ajengapg dan putrinya Fey. Mereka saling mendandani ala Bowie Aladdin Sane. 

12493915_10153310768072405_1980101357944519228_o

Ini adalah foto kucing saya Simone de Bellechaton alias Cimong, kucing putih saya yang mata-beda, odd eye, heterochromia. Entah kenapa dia berkaca-kaca hari ini. Dia betina. Kalau jantan, tentu aja akan dikasih nama Bowie.

Ziggy Stardust aka Thin White Duke aka Starman, Selamat Jalan

#RIPDavidBowie

star wars seri tujuh; gemars & setujuh

By the way, kalau kamu gak peduli spoiler, sila simak A lalu B. Kalau kamu anti-spoiler, simak saja bagian A. Nanti kalau sudah nonton filmnya, baru simak bagian B.

Star Wars: The Forces Awaken. Semesta sepertinya menunggu banget film ini. Setidak-tidaknya, timeline social media saya hahaha. Karena takut spoiler dari teman-teman di lini masa saya, akhirnya saya menyempatkan nonton di hari pertama pemutaran Star Wars: The Forces Awaken di Indonesia yaitu tanggal 18 Des 2016. Sebagai penggemars, saya setujuh bahwa Star Wars seri tujuh termasuk kategori film leh’uga. Selanjutnya judul film kita singkat jadi SW7 aja ya.

Saya suka Star Wars (1977) The Empire Strikes Back (1980) dan Return of the Jedi (1983). Selanjutnya kita sebut saja SW4, SW5, SW6, atau sekalian SW456. Menjelang pergantian millennium, George Lucas memutuskan bikin prekuel kisah tersebut; The Phantom Menace (1999), Attack of the Clones (2002), Revenge of the Sith (2005). Selanjutnya kita sebut saja SW1, SW2, SW3, atau sekalian SW123. Seperti banyak penggemar SW456, ada banyak hal yang mengganggu dalam penceritaan SW123.

Lanjutkan membaca “star wars seri tujuh; gemars & setujuh”

album musik yang best & baik di 2015

Telah 2015 melewati kita dengan aman. Tahun yang penuh gejolak. Dan gejolak selalu perlu musik pengiring. Berikut ini adalah beberapa album musik yang dirilis pada tahun 2015 dan merupakan album bagus dan penting pada tahun bersangkutan. Disusun menurut urutan abjad nama pemusiknya.

Barasuara - Taifun

Barasuara – Taifun  |||||  Ini adalah musik rock, or I would better say musik cadas dengan sikap Bahasa Indonesia yang yakin dan berciri. Lirik album ini digarap dengan serius. Diksi dan cara bertutur yang dipakai belum banyak dieksplorasi teman-teman seperjuangan mereka di periode yang sama. Keunggulan ini bisa diduga keras karena Iga sang vokalis utama, gitaris, dan penulis lirik band ini adalah putra dari penyair lan penulis Yudhistira ANM Massardi. Pengaruh ataupun bantuan Yudhistira pasti akan sangat bermanfaat. Dengan tiga penyanyi dan dua gitaris; bagian vokal dan harmoni grup musik ini hadir berlapis. Menggedor-gedor telinga dengan bass dan drum yang berjoget padu. Album yang enerjik dan sangat layak simak. Simak lagu-lagu enaknya; Bahas Bahasa, Sendu Melagu, Api dan Lentera

Lanjutkan membaca “album musik yang best & baik di 2015”

jelajahi delhi (bag.4 dari 4): tips jalan-jalan di capital city of acha-acha-nehi-nehi

4 argo autorickshaw bajaj delhi

Tips-tips yang  bisa saya bagi setelah pengalaman ke sana, antara lain,

  • Transport – Pelajari dengan baik lajur Metro dan bis. Autorickshaw aslinya pakai argo, namun dengan turis jarang mau. Cari referensi ongkos yang wajar sebagai acuan menawar. Mereka juga selalu menawarkan toko kolega mereka. Nego dengan kepala dingin. Untuk mobil sewa dalam ataupun luar kota, disarankan menggunakan kolega dari hotel, karena lebih terjamin daripada agen yang kita datangi di tepi jalan. Tegas dan berani bilang tidak harus selalu kita lakukan.
  • Akomodasi- Untuk yang lebih nyaman, carilah hotel di kawasan Connaught, untuk yang lebih bernuansa backpackers, Kawasan Paharganj dan Arakahsan bisa jadi pilihan.

Lanjutkan membaca “jelajahi delhi (bag.4 dari 4): tips jalan-jalan di capital city of acha-acha-nehi-nehi”