Yah begitulah, pusat perbelanjaan telah menjadi pusat kebudayaan baru. And  mall is the temple of consumerism. Dan semakin lama, pusat perbelanjaan makin lama makin banyak. Dari yang namanya xxx plaza, xxx mall, xxx junction, xxx town square, xxx city, xxx village atau masih banyak lagi apa lah. Dan semua menawarkan kenyamanan berbelanja barang, dan menghabiskan uang untuk kesenangan lain yang tidak bisa dibawa pulang. Pusat belanja menjadi tempat favorit untuk berbelanja (tentunya), untuk menghibur diri, merawat diri, bersosialisasi, dan lain sebagainya. Bahkan ada seorang teman saya, putra (bukan nama sebenarnya, red) yang menganggap PIM, mal terkemuka di Jakarta Selatan sebagai ruang tamunya; tempat dimana ia dapat bercengkrama dengan sanak saudara, handai taulan, dan juga untuk berdiskusi masalah pekerjaan.

Dan pada hari Senin lalu, 30 November 2009, pusat belanja seperti menjadi tempat favorit untuk … bunuh diri.

Pada suatu senin sore yang indah, masyarakat @twitter berbahasa Indonesia dikejutkan oleh kejadian jatuhnya seorang gadis dari lantai lima dan terjerembab di tangga berjalan di lantai dua di pusat belanja Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Beberapa orang yang hadir (yang tidak saling mengenal satu sama lain) mengambil gambar lokasi jatuhnya almarhumah yang sangat mengenaskan itu. Hebohlah kampung @twitter dengan komentar2 mengenai kejadian itu. Dari yang sangat terkejut, yang prihatin, sampai yang membuatnya bahan candaan. Yah, semakin lama sebagian dari kita memang jadi semakin skeptis menghadapi dunia ini. Kematian gadis yang diketahui bernama Ice Juniar (24 th) itu menjadi topik yang sangat hangat. Kehebohan tersebut dengan sukses membawa nama Grand Indonesia masuk menjadi trending topic di twitter pada hari itu.

And that’s not all for that day, folks … Pada malam harinya terjadi kejadian bunuh diri di Senayan City, kejadian bunuh diri yang kedua pada malam itu.

Peristiwa bunuh diri terjadi pada malam yang tidak terlalu senyap, di Senayan City, Jakarta Selatan pusat belanja yang keberadaannya terancam disegel, lantaran menyalahi izin peruntukan dan masalah pembebasan lahan yang hingga kini belum selesai. Seperti sebuah sekuel, jilid dua, ataupun part deux. Reno Fadillan Hakim (25 th) seorang lelaki melompat dari depan restoran jepang di lantai lima dan terjatuh di lantai dua. Begitu mengenaskan.

Di @twitter, kejadian itu juga membawa Senayan City atau Senci atau sency masuk trending topic, bareng dengan Grand Indonesia. Kampung @twitter heboh lagi. Dan kali ini keprihatian khalayak ditambah dengan fakta yang berkaitan; dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan, di pusat belanja yang berbeda di kota yang sama, sama-sama lompat dari lantai lima di atriumnya, dan meninggal. Bahkan ada yang menduga2 asal bahwa kedua kejadian bunuh diri di mall itu adalah bagian dari promosi film. Yah. Mari kembali ke skeptisisme, karena terlalu banyak berita di media massa ternyata rekayasa mungkin?

Dua orang telah memilih untuk mengakhiri hidupnya di pusat belanja. Kehebohan tidak berhenti disitu.

Kehebohan di @twitter muncul lagi ketika berita tentang tanggapan Sri Ayu Ningsih sebagai Humas Senayan City mengenai kejadian bunuh diri tersebut dimuat di Republika Online. Mari saya kutipkan sedikit pendapatnya

“Sebetulnya saya sangat menyesalkan insiden yang tadi malam. Kenapa Reno harus memilih bunuh diri di Senayan City, tidak mencari tempat lain seperti jembatan, jalan layang, atau gedung tinggi lainnya,” ujar Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih, Selasa (1/12)

“Menurut saya, si Reno terkesan mencari sensasi. Sampai saat ini belum diketahui sebab pastinya kenapa dia melakukan aksi nekat itu. Kalau dari CCTV (alat pemantau) kita sih dia terlihat sengaja menjatuhkan diri setelah keluar dari resto Takemuri di lantai lima,” tukas Ayu. Artikel selengkapnya di Republika Online

Penjelasan emosional Sri Ayu Ningsih sebagai wakil Senayan City mengenai kejadian bunuh diri di senci, di lain sisi, membuat penjelasan Teges Prita Soraya sebagai wakil Grand Indonesia menjadi terdengar simpatik dalam menyikapi kejadian di GI.

“Meski bukan karena kelalaian pihak Grand Indonesia, Teges mengatakan pihaknya tidak akan lepas tangan atas kejadian ini “Kami akan bantu sebisa mungkin, semampu kami,” tuturnya. Pihak GI akan membantu pengurusan hingga akomodasi jenazah sampai pulang ke kampung halaman Ice di Palembang. “Bagaimana pun dia pengunjung kami,” katanya. Artikel Selengkapnya di Republika Online

Rupanya jeng Sri Ayu Ningsih lupa bahwa apa yang diucapkannya dalam wawancara ini ia mewakili sebuah institusi. Ia lupa bahwa apa yang diucapkannya bukanlah bagian dari obrolan santai antar teman di pojok warung kopi impor. Ia lupa bahwa apa yang diucapkannya akan direkam oleh khalayak umum, sukses mengundang ketidaknyamanan dan amarah. Melihat komentar Sri Ayu Ningsih yang apatis dan arogan itu, kita hanya bisa menduga apakah ia ingin mengakhiri karirnya di bidang humas atau public relations secara tidak cemerlang?

Dan mengenai blunder ini, seorang rekan berujar.

“Senayan City’s PR officer will be famous among PR practitioners and could end up in books as an example of how not to handle a tragedy.”

Akhirul kata, semoga Ice dan Reno diampuni segala kesalahannya, dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Amin.

yoshi kabinet indonesia

Baru-baru ini susunan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Kedua diumumkan oleh SBY sebagai Presiden RI. Sebelum nama-nama anggota kabinet tersebut diumumkan secara resmi, berlangsung serangkaian fit and proper test yang diakhiri oleh tes kesehatan para calon menteri tersebut. Ketika muncul nama-nama yang masuk nominasi, masyarakat luas, termasuk kucing-kucing garong di dekat rumah saya mulai kasak-kusuk mengenai kepatutan dan kepantasan calon-calon menteri tersebut menduduki posisi yang diramalkan. Si A terlalu dekat dengan Oom Sam lah, si B terlalu banyak punya ini lah, si C kurang pintar lah, dan lain sebagainya.

Kemudian muncul kesangsian-kesangsian terhadap kinerja maksimal kabinet yang terpilih. Ikuti cuplikan obrolan yang berhasil saya curi dengar di bawah ini;

X:  “Apa bisa kabinet ini bekerja dengan baik?”

Y:  “Jangan apriori dulu. Kita beri kesempatan. Kita awasi sebaik-baiknya kinerja mereka dalam seratus hari pertama masa tugas mereka.”

X: “Kalau belum baik juga?”

Y: “Kita awasi mereka dalam seratus hari kedua.”

X: “Kalau tak ada perkembangan?”

Y: “Kita beri kesempatan lagi di seratus hari ketiga.”

X: “Grrrrrr…” (sfx: suara pegas melenting)

Saya ucapkan selamat bekerja yang sebaik-baiknya wahai para menteri. Selamat menikmati perjalanan pagi yang lancar tanpa macet berarti ke kantor setiap hari dengan mobil mewahmu berkat iringan motor polisi dan jip dalam kota berwarna hitam dengan sirene meraung-raung; merayu warga biasa untuk memberi jalan.

Wahai para pengguna Twitter. Anggota kabinet ini, yang saya ketahui punya akun adalah @boediono, sang Wakil Presiden RI dan @tifsembiring, sang Menteri Komunikasi dan Informasi. Mungkin menteri-menteri lainnya menyusul punya akun Twitter; mungkin juga tidak. Saya tidak tahu betul apakah kedua @boediono maupun @tifsembiring nge-tweet sendiri, atau di tweet-kan oleh ajudannya atau oleh ghost twitter. Tapi saya senang mengikuti tweet mereka.

Saya mengikuti tweet @boediono sejak masa kampanye pilpres 2009. Pada saat itu semua kandidat pasangan presiden dan wapres punya agen twitternya masing-masing. JK-Wiranto punya,  SBY-Boediono punya dua malah, dan Megawati Prabowo punya juga.  Dari semua tweet itu, yang paling manusiawi, nyata dan bersahabat adalah @boediono. Seakan seperti semboyan “tweet yang kamu dapat, langsung dari PC/laptop/mobile aku.” Sementara itu, tweet capres cawapres lain tidak terasa seperti tweet dari seseorang, melainkan seperti dari robot RSS feed atau segerombolan orang yang membela mati-matian pemilik akun tersebut.

Jika ditilik dari tanggal post pertama tweet dari @tifsembiring, ia baru mulai nge-tweet pada malam sebelum pengumuman Kabinet. Dalam waktu yang relatif singkat tersebut, dapat disimpulkan bahwa ia orang yang suka berpantun. Dengan berlapang dada ia terima sindiran karikatural kenyataan dirinya terpilih jadi Menkominfo dan kebijakan yang diambilnya.

Dalam beberapa hari ke depan, Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Kedua akan melakukan Sidang kabinetnya yang perdana. Rapat itu akan dilaksanakan di Bina Graha, di lingkungan Istana Merdeka. Kabinet ini mestinya merasa sangat bersyukur dengan tempat rapat yang demikian nyaman, karena beberapa waktu sebelumnya Kabinet Maladewa harus melakukan rapat kabinet di bawah laut.

Yah, sepertinya ini adalah rapat kabinet yang pertama kali dilakukan di bawah laut; lengkap dengan catatan rapat dan juga tabung oksigen. Dalam foto terlihat bahwa Presiden Maladewa Mohamed Nasheed memimpin rapat kabinet yang dihadiri oleh para menteri kabinetnya. Menurut ramalan para ahli, berkat pemanasan global, dalam waktu kurang dari seratus tahun beberapa kepulauan dengan ketinggian di atas permukaan laut kurang dari tiga meter di Samudra Hindia (yang kita sebut sebagai Samudra Indonesia itu lho), termasuk Kepulauan Maladewa akan lenyap tenggelam ditelan Samudra Hindia. Saat di bawah laut mereka menandatangani satu dokumen sebelum Konferensi Perubahan Iklim Dunia di Copenhagen bulan Desember 2009, yang meminta seluruh negara mengurangi emisi karbon.

20090506-underwater-office

Dengan seruan untuk perbaikan lingkungan hidup yang tertelan riuh belantara baja beton, kabar burung, dan gemuruh mesin kendaraan, kapan waktunya Kabinet Indonesia melakukan rapat di dasar samudra? Mudah-mudahan tidak dalam waktu dekat.