sigur rós – singapóre 2012

Seperti saya ungkapkan sebelumnya, menyempatkan diri nonton Feist, Sigur Rós dan Interpol adalah sesuatu yang harus dilakukan. Nonton Feist udah. Nah, kalau ada kesempatan untuk nonton Sigur Rós secara langsung, itu tentu sangatlah sayang untuk dilewatkan bukan?

Akhirnya datang juga mereka di kawasan ini! Berlangsung di Fort Canning Park, Singapura pada sebuah Jumat 23 November 2012 yang temaram, perhelatan tersebut berlangsung khidmat sekaligus mencerahkan. Berlangsung di cuaca yang tidak menentu berkat perubahan musim yang tidak teramalkan, di bulan November, Singapura seperti Jakarta sangat sering disiram hujan dan mendung yang gelap. Pada tiket tertulis, “It’s a rain or shine event”. Konser dilangsungkan di tempat terbuka. Jadi ya, kita harus mempersiapkan diri dengan perangkat yang tepat.

Saya berangkat ke Singapura, seperti banyak teman lainnya dari Indonesia. Dalam perjalanan dari bandar udara ke penginapan dan ke tempat acara, terdengar di sana sini cuplikan percakapan dalam Bahasa Indonesia dengan pilihan kata yang khas anak muda masa kini yang menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan pertunjukan sore itu.

Saya berangkat dari Jakarta, Indonesia ke Singapura untuk nonton Sigur Rós yang berasal dari Islandia. Musik asing dengan bahasa yang asing. Sesuatu yang untuk saya sama asingnya seperti kerapihan sistem kereta bawah tanah SMRT dan taman-taman yang terawat di Singapura.

Fort Canning adalah taman raksasa di tengah kota. Agak menanjak tempatnya. Kami para penonton harus menapak beberapa anak tangga, sekonyong-konyong Imogiri rasanya. Dan tampak segerombolan orang berjalan bersama menuju arah yang sama, seperti jamaat sekte apa gitu. Dan yang menarik adalah, sepanjang perjalanan tidak banyak (kalau mau dibilang tidak ada) papan petunjuk, banner, atau apalah yang menunjukkan bahwa sore itu ada suatu acara. Kemudian saya dan teman-teman sampai di suatu lokasi yang baru dapat diduga sebagai gerbang tempat pertunjukkan. Di lokasi tersebut tampak tenda tempat penukaran tiket. Ada truk dengan poster-poster besar acara musik Sigur Rós yang berlangsung malam itu dan juga poster konser Journey yang akan dilangsungkan dua bulan kemudian. Yang menarik adalah ada dua atau tiga orang yang berkeliling di lokasi tersebut dengan tas punggung berupa poster  yang tempatkan di belakang atas kepala mereka, dilengkapi dengan lampu neon pula.

Kita memasuki areal acara, panggung tampak di sebelah kiri kita dan di bagian kanan ada tenda kecil yang dikerumuni massa. Kemungkinan besar tempat penjualan kaos resmi. Dan dibelakangnya tampak tenda panjang tempat penjualan makanan dan minuman. Panggung terletak di sisi bawah area, jadi lokasi tampaknya dipilih yang menyerupai set tempat duduk teater, sehingga idealnya penonton dalam keadaan duduk maupun berdiri dapat melihat panggung tanpa terhalangi penonton di depannya, kecuali penonton di depannya jangkung tentunya. Tampak Hotel Fort Canning di latar belakang.

Suhu dingin namun lembab. Khas pulau kecil dan pantai Asia Tenggara di musim hujan. Langit tampak dipenuhi awan hujan, berwarna merah kekuningan. Berwarna demikian tentu saja karena pantulan sinar lampu kota. Awan hujan tampak menghalangi cahaya bulan yang mengintip dari belakang, bulan yang belum sempurna bulatnya. Kalau suatu acara dilaksanakan di kampung kita, dan tampak awan hujan menggantung seperti itu, kita akan menduga keras bahwa ada pawang hujan yang bekerja keras menahannya. Tapi ini Singapura, kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di belakang layar.

Kemudian penonton sudah mulai memadati lokasi. Berkerumun dengan teman-teman masing-masing. Ngobrol. Di sekitar saya terdengar Singlish dan bahasa yang saya duga keras bahasa Thai. Hujan rintik-rintik sesekali menetes. Sebagian penonton tampak telah siap dengan jas hujan dan payungnya masing-masing. Sebagian lainnya seperti siap menjelang hujan tanpa  perlengkapan pelindung.

Pertunjukan  tampak segera akan mulai dengan rekaman Lagið yang mulai diputar, dilanjutkan dengan Í Gær. Pecahlah penonton dalam suka dan duka. Menonton Sigur Rós itu seperti berceria dalam semangat dan suka. Di sisi lain seperti menikmati duka yang sedang terasa.

Dari sudut pandang penonton, tampak Jónsi di tengah panggung dengan sang penggebuk drum di sisi kanan dan pemain bass di kiri. Di bagian belakang agak tinggi tampak para pemusik pendukung bagian string dan horn. Di bagian belakang mereka tampak layar video yang memenuhi lebar dan tinggi panggung. Memberikan gambaran visual yang digarap sangat rapih seperti gelembung udara yang bergerak perlahan sampai bunga-bunga kembang api yang mengajak penonton membuang jauh rasa gelisah dan takut. Para pemain biola selalu tampak bayangannya melengkapi band utama.

Merinding punya.

Jónsi berdiri di tengah dengan gitarnya yang jarang dipetik secara biasa dan lebih sering digesek sepert cello. Suara palsu falsetonya ditambah dengan efek reverb dan lain-lainnya membawa repertoar ke negeri antah berantah yang nyaman dan damai. Ambient. Eatheraeal. Sangat ajaib rasanya melihat sembilan ribuan penonton takjub dengan musik yang mengawang dan bahasa yang asing, setidaknya oleh sebagian besar penonton. Lirik Sigur Rós berkisar antara bahasa Islandia dan Volenska/ Hopelandic berupa bahasa gibberish tak bermakna semantis. Seperti lirik-lirik Jónsi adalah suatu elemen musik tersendiri yang fungsinya seimbang dengan elemen alat musik lainnya yang berhasil membawa energi dan emosi penonton naik, menikung dan meliuk-liuk.

Banyak yang menangis bahagia malam itu.

Lagu-lagu Sigur Rós yang sering memiliki unsur crescendo, yang dari pelan-pelan menjadi keras dan intensif membawa penonton ikut euphoria. Glósóli. Svefn-g-Englar. Sæglópur. Di bagian akhir tur Valtari ini, Sigur Rós membawakan lagu baru mereka Brennisteinn yang akan masuk ke album baru. Lebih keras dari biasanya. Setelah  Brennisteinn, Sigur Rós beranjak turun dari panggung, disertai hujan rintik.

Setelah teriakan, we want more! curanmor! yang bergema. Mereka kembali. Dan hujan tumpah lebih deras. Sebagai bagian dari crescendo encore yang mereka tampilkan. Ekki Múkk. Terdengar teriak bahagia di tengah hujan. Popplagið. Alam dan cuaca malam itu turut bersama Sigur Rós malam itu merayakan kehidupan. Payung. Jas hujan. Semua bergembira bersuka ria. Beberapa penonton merinding gila. Banyak yang menangis bahagia malam itu. Katanya doa lebih mudah terkabulkan saat hujan.

Sigur Rós. Hujan. Asa.

Njosnavelin.

Setlist:

Lagið Í Gær

Vaka

Glósóli

Svefn-g-Englar

Sæglópur

Fljótavík

Viðrar Vel Til Loftárása

Hoppípolla

Með Blóðnasir

Olsen Olsen

Festival

Varúð

Brennisteinn

Encore:

Ekki Múkk

Popplagið

2 thoughts on “sigur rós – singapóre 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s