matah ati

“Tiji tibeh, mati siji, mati kabeh, mukti siji, mukti kabeh”

Matah Ati adalah karya yang sebaiknya tidak dilewatkan karena saking kerennya. Dengan nama-nama seperti Atilah Soeryadjaja sebagai konseptor / penulis naskah / sutradara; Jay Subyakto sebagai penata artistik; dan Inet Leimena sebagai penata acara;   jaminan mutu bahwa tontonan ini akan elegan dan enak ditonton.

Matah Ati bercerita tentang Rubiyem, yang kemudian mendapat julukan ‘Matah Ati’. Matah Ati dengan pasukan prajurit perempuan kemudian bersama laskar ‘Pangeran Sambernyawa’ Raden Mas Said, melawan VOC Belanda dan tentara lokal yang mendukung mereka.

Matah Ati merupakan hasil renungan Atilah setelah membaca salah satu judul di koran negara tetangga, “Solo is heaven for terrorist”. Hati wong solo ini tercabik dan membuatnya bertekad bikin sesuatu untuk menampilkan unsur Surakarta /Solo yang kaya seni dan budaya adiluhung. Kemudian ia berangkat mengangkat kisah Matah Ati yang merupakan salah satu cerita dari Pura Mangkunegaran. Cara bertutur Matah Ati berdasar pada konsep Langendriyan (Opera Jawa) yang dahulu dirancang oleh Mangkoenegoro IV dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.

Nah …

Yang sangat menonjol dari pergelaran ini adalah panggungnya yang miring 15 derajat. Jay Subyakto mendapat ilham membuat panggung miring setelah napak tilas ke perbukitan Selogiri, Surakarta tempat Raden Mas Said dan Matah Ati bertempur melawan Belanda. Nah, dengan tampilan panggung miring itu, konfigurasi tarian yang ditampilkan juga bisa tampak lebih jelas oleh penonton. Penari yang bagian belakang pun terlihat jelas gerakan dan adegannya. Kerennya lagi, sebagian panggung miring bagian tengah dapat terbuka seperti pesawat ruang angkasa, tempat beberapa tokoh masuk kepanggung, yang semakin menakjubkan karena dari ruang tersebut juga disemburkan efek asap dan lampu terang.

Cerita dituturkan secara keseluruhan dalam Bahasa Jawa. Nah, seperti ludruk dan ketoprak pada umumnya, setelah beberapa babak tarian dan drama ‘serius’ di pertengahan muncul empat bibik dengan memanggul beberapa perkakas, tampil dengan tata rias ala punakawan. Gareng Petruk Semar Bagong. Di bagian ini mereka bertutur tentang ‘sinopsis’ adegan sebelumnya dalam Bahasa Indonesia campur Jawa dan Enggres ‘don’t worry’ atau ungkapan ‘plis deeh’. Bagian ini sedikit banyak membantu penonton yang tidak mengerti Bahasa Jawa untuk memahami cerita. Sambil sentil-sentil masalah politik dan sosial kekinian. Geng punakawan perempuan sukses reus membuat penonton gerr-gerran

Drama tari Matah Ati merupakan cerita berlatar sejarah perjuangan dengan kemasan tradisi teater jawa kuna yang rapih, dengan tata gerak, tata musik, dan tata busana. Tampilan tradisional ini dipadukan dengan unsur modern panggung miring, kabel sling, dan ledakan mercon yang tidak eksesif sehingga dapat menampilkan cerita yang elegan dan enak ditonton. Drama tari Matah Ati sukses memadukan tradisi dan teknologi dengan pas menjadi tontonan yang bagus. Tidak seperti beberapa usaha menampilkan tonil jawa lainnya yang pada akhirnya malah mengurangi nilai tradisi jawa itu sendiri.

Lakon Matah Ati digelar pada 22-25 Juni 2012 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan kelak di Surakarta pada September 2012. Sebelumnya, Matah Ati sudah terbang ke Singapura pada 22-23 Oktober 2010 dan dipentaskan di Jakarta 13-16 Mei 2011. Untungnya saya juga sempat menonton pertunjukan tahun 2011 itu.

Nonton juk.kalo gak sempet 25 Juni ini ya September nanti di Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s