ujung kulon! peucang, handeuleum, cibom, cigenter, & badak yang sembunyi

Saatnya kita ke Taman Nasional Ujung Kulon. Masak orang Indonesia, orang Jakarta belum pernah ke Ujung Kulon. Taman Nasional yang menurut buku pelajaran Sekolah Dasar, adalah tempat perlindungan bagi Badak Jawa.

Pada suatu akhir pekan, saya dan rekan-rekan sekantor berencana untuk pergi ke sana. Berjumlah dua puluhan orang, kami berangkat menuju Ujung Kulon dengan bis sewaan. Di Ujung Kulon, kami akan menginap di Pulau Peucang. Selain Peucang, kita juga dapat menginap di Pulau Handeuleum. Untuk menyeberang ke Peucang atau Handeuleum, kampung pelabuhan terakhir menuju kesana adalah Kampung Sumur. Dibandingkan dengan Peucang, Handeuleum lebih dekat dari Kampung Sumur. Pulau Peucang, Pulau Handeuleum dan Pulau Panaitan termasuk termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Bis kami sampai di Sumur kira-kira 04:30 pagi. Turun dari bis kami langsung bergegas menuju sebuah rumah, yang biasa dipakai sebagai tempat transit, tempat istirahat sementara, ngopi-ngopi. Ngeteh-ngeteh. Nasi uduk sederhana dan bisa mandi-mandi dan shalat. Setelah selesai, kami bergegas ke arah pantai, naik ke rakit kecil yang akan mengantar ke kapal kayu yang akan mengantar kami ke Peucang. Dari Sumur ke Peucang kira-kira tiga jam. Berangkatlah kami dengan kapal menuju pulau Peucang. Di awal perjalanan, kami berlayar mengejar ujung pelangi, sungguh keren, karena malam dalam perjalanan memang hujan.

Setelah sekitar tiga jam, sampailah kami di Pulau Peucang. Dari dermaga, tampak beberapa barak panggung tempat kami menginap, setelah itu, hutan tropis. Menurut keterangan di pulau ini ada Rusa, Lutung, Biawak, Babi hutan, Merak Hijau dan Banteng Jawa. Di tanah lapang depan penginapan, tampak berkeliaran Rusa, Lutung dan Babi Hutan. Beberapa kali di belakang penginapan tampak Biawak melintas. Mereka seperti sudah akrab dengan manusia. Kata sang penjaga, hewan-hewan yang sering nongkrong di lapangan depan relatif jinak. Katanya lagi, Rusa, Lutung dan Babi Hutan yang di dalam hutan belakang penginapan lebih liar.

Rusa, Lutung dan Babi Hutan yang berkeliaran di lapangan membuat kami tergoda untuk memberikan mereka makanan. Kami lemparkan kudapan dan sisa makanan ke mereka. Lain Rusa dan Babi, lain pula para Lutung. Ternyata mereka lebih berani dari pada hewan-hewan lainnya itu. Kalau kita meleng, sering sekonyong-konyong seekor lutung berlari mendekati dan siap menerkam snack yang sedang kita pegang. Setelah insiden terambilnya sebungkus wafer, baru teman-teman menyembunyikan makanan yang mereka punya. Eh belum puas ternyata, pintu belakang yang lupa kami tutup menjadi tempat menyelinap satu Lutung senior yang berhasil memboyong sekantong gula ukuran satu kilo. Malam itu para Lutung akan berpesta gula. Jika kamu sempat ke Peucang, jangan lupa menjelajah pantai dan snorkling di sekitar pantai yang sepi ini.

boar - apr 1, 2012 #366shots
boar – apr 1, 2012 #366shots

Setelah makan siang, kami berangkat ke Cibom dan kemudian berjalan kaki dari Cibom ke Tanjung Layar. Beberapa ayam hutan tampak melintas. Dan di ketinggian hutan terdengar suara lutung cekikikan dan dan suara burung. Kata teman saya Burung Rangkong. Kami kemudian sampai di Tanjung Layar yang menjadi ujung paling Barat pulau Jawa. Setelah itu kami bersnorkling ria di sekitar Cibom.

fotografi - mar 31, 2012 #366shots
fotografi – mar 31, 2012 #366shots

Setelah makan pagi, kami langsung berkemas untuk mengunjungi Handeuleum dan kemudian berkano ke Cigenter. Handeuleum dipenuhi oleh pohon bakau dan menjadi tempat yang cukup seru untuk berburu gambar. Kalau menurut saya, lebih baik menginap di Peucang daripada Handeuleum, karena di Peucang lebih banyak yang bisa dilakukan saat santai-santai.

Kemudian kapal kami berangkat ke Sungai Cigenter, diikuti oleh beberapa jukung yang terikat di belakang kapal. Kapal kami kemudian berhenti, saatnya untuk pindah ke jukung, satu per satu. Satu jukung berisi antara lima sampai tujuh orang. Dari hilir Cigenter kami mendayung perlahan-lahan memasuki sungai yang liar. Kata sang pemandu, di sungai ini banyak Ular Piton dan buaya. Sampai satu lokasi, kami lihat beberapa jejak langkah badak, tempat mereka biasa menyeberang. Sungguh mendebarkan. Kata sang pemandu lagi, sangat sulit untuk melihat badak kalau tinggal di TNUK hanya satu akhir pekan. Untuk melihat satu di antara sekitar tigapuluhan badak yang sekarang ada di lokasi itu, kita harus tinggal paling tidak dua minggu lamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s