petals in the crowd; berdiri nonton di antara penari

Serius.

Ini adalah pengalaman nonton pertunjukan tari yang berbeda.

Setelah gong berbunyi tiga kali, para penonton bergegas masuk ke ruangan pertunjukan. Di dalam ruangan pertunjukan yang kurang lebih luasnya 15 meter X 40 meter tampak satu panggung pengaturan tata cahaya dan tata suara. Selain itu tampak dua ‘sangkar’ kain yang tergantung; selain itu tak tampak satu kursi pun.

Penonton masuk. Kemudian seorang perempuan yang tampaknya adalah konseptor pertunjukan tersebut maju ke tengah dan memberi kata pengantar mengenai pertunjukan tersebut. Dalam pertunjukan kali ini, Angela Liong, sebagai sang konseptor mengungkapkan bahwa ia meniadakan batas antara penonton dan penampil dengan tidak menyediakan kursi untuk penonton dan panggung untuk penampil. Keduanya setara. Ia juga mempersilahkan penonton untuk mengambil tempat di mana saja, tidak berkerumun di sisi gedung dengan “membiarkan” sisi tengah untuk penampil. Penonton dipersilahkan duduk atau berdiri di titik manapun. Karena kemudian katanya penari akan menyesuaikan ruang geraknya dengan posisi penonton tersebut.

Pertunjukan dimulai. …

Hasilnya adalah sebuah pertunjukan yang dengan pengalaman nonton yang berbeda. Sensasinya seperti saat menonton topeng monyet, sewaktu kita masih TK; atau saat menonton Cheerleaders dari SMA paling top di ibukota, saat kita SMA. Penonton akan merasa sangat terlibat dalam tarian karena kadang-kadang beberapa penari akan bergerak mengitari seorang atau sekelompok penonton. Dan penonton juga seperti bebas menikmati pertunjukan dari sudut manapun karena sangat bebas memilih posisi. Jadi sudut pandangnya akan berbeda-beda.

Dan bersiaplah akan kejutan karena fokus tarian akan berpindah-pindah terus. sangat menarik untuk #366shots

Mari tonton pertunjukan ini, Petals in the Crowd yang ditampilkan oleh kelompok tari The Arts Fission di bawah pimpinan Angela Liong yang berasal dari Singapura. Dalam karya ini ia bekerja sama dengan dengan kelompok kolektif seni rupa, :phunk. DJ K sebagai pemandu cakram dan Adrian Tan sebagai penata cahaya. Penari yang tampil dalam pertunjukan ini adalah Edwin Wee, Mayu Watanabe, Wang Weiwei, Aditep Buanoi, Vararom Tavivoradilok, dan Tomomi Aramaki.

Pertunjukan ini terinspirasi oleh karya Ezra Pound, In a Station of the Metro (1913) dan puisi dari dinasti T’ang, Faces in Peach Blossoms yang ditampilkan dengan rasa kontemporer. Pertunjukan ini adalah hasil kerja sama antara Komunitas Salihara dan The Arts Fission Company. Didukung oleh National Arts Council Singapore dan Singapore International Foundation.

Saya nonton Jumat kemarin, sempatkanlah nonton Sabtu ini. Keren sekali loh!

Angela Liong and the Arts Fission Company (Singapura)

Petals in the Crowd—Flowers of Lamentation Series II

The ARTS FISSION Company

Teater Salihara | Jumat-Sabtu, 17-18 Februari 2012, 20:00 WIB

HTM Rp 50.000,- | Mahasiswa/Pelajar Rp 25.000

Komunitas Salihara

Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.

Tel: 021-789-1202

http://www.artsfission.org/index.php?option=com_content&view=article&id=63&Itemid=72

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s