banda naira; singgah di potongan sejarah yang indah

Ke kepulauan yang wangi bunga pala, tempat beberapa pejuang bangsa diasingkan.

Sesuai dengan apa yang tertera di tiket yang telah kami pegang, dapat dipastikan bahwa pagi itu pada pukul 06:30 WIT, pesawat Nusantara Buana Airways (NBA) dari Bandara Pattimura Ambon, tujuan Banda Naira akan berangkat dengan estimasi perjalanan selama satu jam.

Kami akan berangkat ke Banda Naira. Kepulauan tempat asal tanaman Pala, sesuatu yang menjadi komoditas sangat berharga di masa kolonial. Kepulauan yang antara lain dikenal sebagai tempat pengasingan Bung Hatta, Bung Sjahrir, dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Koesuma Soemantri pada masa perjuangan kemerdekaan. Banda Naira, sebuah kepulauan yang menurut mereka yang pernah datang berkunjung, sangat indah sekali. Sulitnya akses membuat tidak banyak orang yang pernah ke Banda Naira. Dari lingkungan pertemanan saya, hanya dua orang teman yang pernah ke sana sementara lebih banyak teman Warga Negara Asing yang pernah ke sana.

Banda Naira adalah bagian dari Provinsi Maluku, Kabupaten Maluku Tengah. Berjarak kurang lebih 220 km dari Pulau Ambon ke arah tenggara. Untuk mencapai Banda Naira, perhentian paling umum adalah lewat Ambon. Perjalanan menuju Banda Naira dapat ditempuh dengan tiga cara; lewat penerbangan perintis, lewat pelayaran kapal Pelni, dan lewat kapal cepat sewaan. Masing-masing pilihan memiliki kelebihannya dan keseruannya masing-masing.

lanjut …

Penerbangan perintis menjanjikan waktu tempuh yang relatif singkat, hanya satu jam perjalanan, namun pada saat kami berangkat, penerbangan hanya dilakukan dua kali dalam seminggu tiap Rabu dan Jumat; menuju Ambon-Banda Naira maupun sebaliknya. Kapal Pelni secara umum berangkat ke Banda dua minggu sekali. Kapal cepat sewaan menjadi pilihan yang paling fleksibel namun harus dibayar dengan ongkos yang sangat mahal; belum lagi keadaan gelombang laut perairan Ambon yang terkenal tidak ramah. Apapun jenis transport yang dipilih, pilihan tersebut akan menjadi pengalaman yang seru untuk Anda dan rekan seperjalanan.

Kami memilih penerbangan, bersiap-siap dari pagi, dan puji Tuhan pagi itu cuaca cukup cerah untuk terbang. Dengan penerbangan perintis berpenumpang maksimal 15 orang, kami menghadapi berapa guncangan yang dapat diatasi pilot kami yang berpengalaman. Penerbangan yang tidak semua orang berani menaikinya. Tibalah di Banda Naira. Sebuah kepulauan di mana waktu bergerak sangat perlahan.

Selama di Banda Naira, Kami tinggal di Hotel Maulana yang didirikan oleh mendiang Des Alwi Abubakar. Beliau adalah pelaku sejarah, diplomat, sejarawan, dan tokoh utama dalam pelestarian peninggalan sejarah di Banda Neira.  Letak Maulana di tepi laut, Maulana terletak tepat menghadapi Pulau Gunung Api di seberang, terpisah dengan selat yang sangat tenang. Dengan gaya arsitektur tempo doeloe, dan kamar yang luas, tempat ini menjadi lokasi yang nyaman untuk menghabiskan waktu dengan pasangan sambil bersantai.

Hotel Maulana ini berdampingan dengan Pelabuhan Pelni. Namun jangan takut akan suasana yang terlalu riuh, karena kapal Pelni hanya mampir ke sini dua minggu sekali. Jadi, pelabuhan hanya akan ramai sekali pada waktu tersebut saat kapal berlabuh saja. Selebihnya, seperti sekolah di saat libur. Sangat sesuai bagi Anda yang menginginkan tempat yang tidak ramai dan pribadi. Bersantai di Maulana pada sore hari sepertinya adalah pilihan yang santai dan intim untuk dilewati bersama pasangan.

Sesampai di Maulana, kami disambut oleh segarnya Sirup Pala dan Pisang Goreng bertabur gula pasir dan parutan Pala. Sungguh sambutan yang sangat berselera. Minuman dan kudapan tersebut langsung menghilangkan kelelahan kami selama perjalanan sekaligus mempersiapkan kami untuk menjalankan petualangan seru. Mengalami perjalanan sejarah dan keindahan alam Banda Naira!

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa berwisata ke Banda Naira adalah sebuah pengalaman yang lengkap. Tempat ini menawarkan pengalaman ke sejarah masa lampau dan keindahan pantai tropis. Menyusuri Jalan Gereja Tua, di belakang pelabuhan, kita seperti terkirim dalam mesin waktu, di mana rumah-rumah zaman kolonial masih utuh bentuk bangunannya. Sebagian besar tetap terawat dengan baik oleh pemiliknya. Nostalgia langsung terasa saat melangkahkan kaki di Jalan Gereja Tua ini, romantisme yang tak mungkin di dapatkan di daerah lain.

Di sudut jalan langsung tampak Penginapan Delfika yang berhadap-hadapan dengan Rumah Budaya. Ruang tengah Delfika tampak seperti tak berubah dari akhir abad sembilan belas lengkap dengan mebel dan aksesoris rumah dari masa tersebut. Sempatkan makan pagi atau makan malam di tempat ini, untuk bersantai dan intim dalam nuansa masa lalu.

Tepat di depan Delfika, Rumah Budaya memiliki koleksi barang antik peninggalan masa kolonial Belanda seperti meriam, uang kuno, dan helm masa itu. Di tempat ini pula masih terpajang satu set Gramofon bertenaga pegas yang masih berfungsi dengan baik. Untuk memutar piringan hitam, kita harus mengengkolnya beberapa kali. Suara jernih piringan hitam ditingkahi oleh desis masa lalu.

Di samping Rumah Budaya terdapat rumah pengasingan Bung Syahrir. Tampak beberapa barang peninggalan dari masa hidup beliau seperti mesin ketik kesayangannya. Rumah Bung Hatta, yang terpisah beberapa ratus meter dari tempat ini masih lebih lengkap perabotannya. Meja dan kursi belajar tempat Hatta mengajar anak-anak Banda saat itu masih lengkap tersusun di halaman belakang.

Pada hari tiap minggu, suasana kolonial Belanda akan lebih terasa saat lonceng Gereja Protestan Belanda berbunyi memanggil jemaatnya. Beberapa ruas lantai gereja ini terbuat dari prasasti untuk mengenang beberapa pastor yang dimakamkan di Gereja tersebut.

Beberapa ratus meter dari kediaman Bung Hatta, kita akan sampai ke Istana Mini tempat kediaman Gubernur Jenderal Belanda pada masa itu; termasuk diantaranya Jan Pieterszoon Coen. Konon istana ini dibangun satu tahun sebelum dibangunnya Istana Merdeka di Batavia. Pengunjung dapat berjalan menyusuri halaman dalam bangunan yang luas ini. Salah satu hal yang unik di tempat ini adalah adanya coretan puisi yang ditulis di kaca jendela, dibuat oleh satu juru masak pada masa kolonial. Tragisnya, setelah menulis puisi tentang kerinduan akan kampungnya itu , ia tewas bunuh diri.

            Mari kita mendaki sedikit ke atas bukit. Benteng Belgica tampak megah diatasnya. Benteng ini berbentuk segi lima (pentagon) dan menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860. Coba kunjungi Benteng ini saat menjelang senja, karena matahari tenggelam di balik Gunung Api akan tampak indah sekali. Menurut sang juru kunci , warga sekitar selalu mengadakan pesta kunci tahun (pergantian tahun) di tempat ini dengan menyalakan obor di lima penjuru benteng ini lalu bermain musik dan berdansa. Hal ini akan menjadi pengalaman pergantian tahun yang sangat unik bagi Anda dan pasangan.

Pulau Naira dengan banyaknya bangunan bersejarah tersebut, terasa menjadi sebuah distrik yang penuh kesan akan masa lampau. Hal lain yang sangat menarik di Pulau Naira ini adalah bahwa penduduk di pulau ini menghabiskan waktu sore mereka di landasan airport untuk bersantai atau berolah raga. Cobalah cari penyewaan sepeda untuk menjelajahi seputar kawasan Pulau Naira dengan santai dan penuh makna untuk dilewatkan berdua saja.

Selain Pulau Neira,tentu saja masih ada Pulau Gunung Api, Pulau Banda Besar, Pulau Hatta, Pulau Syahrir, Pulau Ay, Pulau Rhun dan Pulau Neilaka yang menanti untuk dieksplorasi. Kapal penumpang reguler dari Pulau Neira hanya melayani transportasi ke Banda Besar dan Pulau Ay. Untuk menjelajah pulau lainnya, kita dapat menyewa perahu motor.

Mendaki Gunung Api setinggi 636 meter akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dan berharga dalam mencapai tujuan bersama-sama. Saling membantu dan saling mendukung dalam perjalanan mendaki ke puncak. Puncak gunung tersebut rata-rata dapat dicapai dalam waktu dua jam saja. Cobalah cari informasi tentang pemandu tracking dan perahu penyeberangan untuk perjalanan mendaki tersebut.

Jangan lewatkan Pulau Banda Besar dan kesempatan menjelajahi sisa-sisa Benteng Hollandia (1624). Benteng dengan pemandangan menyeluruh ke arah pulau-pulau Banda Neira lainnya. Benteng lain di pulau ini adalah Benteng Concordia di bagian timur. Kunjungilah kawasan perkebunan pala peninggalan era kolonial untuk pengalaman panen pala dan kenari.

Dalam perjalanan menuju lokasi snorkling atau diving di pulau Hatta dan Syahrir buka lebar-lebar pandangan Anda karena kami sempat menemukan gerombolan ratusan ikan tongkol yang sedang makan sore bersama menimbulkan riak di permukaan air, sangat ramai sekali. Setelah itu pun, kami sempat dikawal oleh kawanan lumba-lumba yang melintas. Ini menjadi pengalaman yang asyik dan tak terlupakan.

Di Pulau Ay dan Pulau Rhun banyak sekali terdapat perkebunan pala yang berlindung di bawah pohon kenari yang sangat besar. Sebagai informasi , pada masa kolonial Rhun sempat dikuasai Inggris. Pada saat itu Belanda ingin menguasai segenap kepulauan Banda, sehingga Belanda meminta Rhun dengan pertukaran sebuah wilayah di Amerika Utara, saat ini wilayah yang dimaksud adalah Manhattan. Di sini cobalah cari penduduk yang menjual Pala, Bunga Pala, atau Kenari. Harganya pasti jauh lebih murah daripada yang dijual di Pulau Neira. Apalagi jika dibandingkan dengan harga Pala di kota-kota besar di Indonesia.

Jadi, kapan Anda dan pasangan berangkat ke Banda Naira?

Catatan penting penjelajahan Banda Naira:

– Jangan lupa bawa sepatu tracking karena Gunung Api yang manjadi titik tengah Banda Naira selalu menantang untuk didaki.

– Bawalah satu setelan baju bergaya klasik, untuk berfoto bersama di lokasi bersejarah. Untuk keperluan ini pula, Bawa kamera pocket, setel dengan timer otomatis, dan jangan lupa bawa juga tripod mini.

– Sewa sepeda atau becak untuk menjelajah Neira atau Banda Besar dengan santai

– Cicipi masakan lokal, lengkap dengan bumbu Palanya. Termasuk masakan-masakan ikan yang sangat segar. Jangan lupa cicipi, sup ikan, Sayur Ulang-ulang (semacam karedok) dengan saus Kenari, dan juga Terong bumbu Kenari. Yummy!

Nusantara Buana Air (NBA) | JL. Dr Saharjo no.123 EF Jakarta . | 021-8353783 | Agen NBA di Banda : Pak Musri : 081380323231

Pelni http://www.pelni.co.id/ | Pelni Ambon | Jl. D. I. Panjaitan No 19, Ambon | 0911-348-219, 0911-353-161, 0911-342-328 ambon@pelni.co.id | Pelni Banda Neira | Jl. Pantai No. 17, Banda | 0910-21196, 0910-21066 bandaneira@pelni.co.id

Mutiara Guesthouse 0911-21344 | Abba (Owner) 0813-30343377 | banda_mutiara@yahoo.com

Hotel Maulana 0911-21022 | Dede (Manager) 0819-45051526 | lawere@cbn.net.id

One thought on “banda naira; singgah di potongan sejarah yang indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s