batu karas; green canyon; pangandaran

Indonesia is a beautiful city.” Begitulah kata Nadine Chandrawinata pada suatu ketika. Saya sangat setuju sama dia. Kalau untuk negara tropis, Indonesia ini paling lengkap kekayaan alamnya. Yah, sayangnya untuk urusan manajemen wisata kita kalah sama negara-negara lainnya, di Asean aja udah kalah.

Singkat cerita, saya dan @onengan butuh liburan. Baca blog ini dan blog itu, kami memutuskan untuk jalan ke daerah Jawa Barat saja. Sekitar Cukang Taneuh, Batu Karas, Pangandaran. Cukang Taneuh, lebih ngetop dengan panggilan Green Canyon. Batu Karas; udah sering dengar dari lama jadinya penasaran. Pangandaran; udah dimention dari zaman besi, katanya oke.

Ke Pangandaran dari Jabotabek?

Ada banyak cara. Tujuan tersebut bisa dijalani dengan bis umum; bisa dari Kalideres, dari Kampung Rambutan, dari Depok pun bisa. Ada yang executive ada pula yang ekonomi. Tergantung daya beli. Yang cukup banyak pilihannya adalah armada ‘Budiman’. Saya punya telepon kontaknya. Anda juga bisa naek pesawat dari Bandung, kalo di Jakarta ya ke Bandung dulu ke Hussein Sastranegara lalu cari maskapai penerbangan untuk  jurusan Nusawiru, Pangandaran. Kalau punya mobil, ya naik mobil aja. Kalau punya motor ya naik motor saja asalkan kuat staminanya untuk menempuh perjalanan 400 km. Kalau dengan mobil pribadi, jarak tersebut akan dapat ditempuh dalam delapan jam perjalanan santai. Masuk tol Padaleunyi lalu keluar di pintu terakhir, Cileunyi-Garut-Tasikmalaya. Dari situ ikuti saja jalan besarnya dengan papan penunjuk jalan yang cukup jelas. Jalur Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Pangandaran.


Batu Karas

Ini adalah sebuah desa dengan pantai yang tidak terlalu besar. Tapi saya sudah sering dengar tentang pantai ini, jadinya cukup penasaran. Saya banyak dengar tentang Batu Karas dari teman-teman di Bandung dan yang bekerja di ahensi periklanan. Tempat ini digambarkan sebagai pantai untuk nyepi dan enak buat belajar surfing. Untuk sampai ke Batu Karas dari Pangandaran, 40 km lagi harus ditempuh, bisa dengan angkot. Melewati Green Canyon yang berjarak 35 km dari Pangandaran. Jalan aspalnya cukup lumayan (apa coba) baguslah meskipun beberapa ruas jalan rusak, meski tidak sebagus ruas Ciamis-Banjar-Pangandaran.

Sampai di Batu Karas kami mencari penginapan. Ada beberapa pilihan yang layak. Kalau pada hari kerja, budgetnya antara Rp 120.000 sampai Rp 750.000 per kamar. Yang paling mahal dan paling keren adalah Java Cove, tapi ya itu paling mahal di area tersebut konon kabarnya tidak boleh berisik, seperti asrama🙂 Ada pilihan Pondok Putri, Blue Cove, dan Bonsai. Kami pilih Bonsai karena cukup layak dan dekat pantai. Fasilitas kamar dengan kipas angin dan kamar mandi. Ada beberapa tempat makan di sini; yang warung nasi untuk yang budget pas dan yang lebih enakan. Kami makan di Rumah Makan Kang Ayi. Menu Makanan dan suasananya kurang lebih seperti yang ditawarkan di warung-warung Gang Poppies, Kuta dengan harga yang kurang lebih sama dengan harga makanan di Foodcourt ITC di Jakarta.

Pagi itu kami nongkrong di pantai, ombaknya tidak cukup besar untuk bodyboard pun. Petugas jasa sewa bodyboard dan surfboard yang tadinya menawarkan jasa akhirnya malah nongkrong dan ngobrol dengan kami. Sehingga kami banyak mendapatkan informasi dan insight mengenai Batu Karas. Sewa dan kursus surfing satu sesi dari pagi tarifnya Rp 150.000,- di Batu Karas, yang diklaim sebagai pantai teraman untuk belajar Surfing. Si Kang Udin menyarankan lain kali untuk cek ombak dulu di Internet sebelum berangkat ke sini. Lain kali saya akan cek Internet dulu di ombak sebelum ke Batu Karas kalau begitu. I’ll be Bach!

Cukang Taneuh / Green Canyon

Dinamakan Cukang Taneuh dalam Bahasa Sunda karena di bagian sungai tersebut ada “Jembatan Tanah” yang menghubungkan dua sisi sungai. Kalo keminggris, Green Canyon karena menurut orang bule yang pertama kesini waktu itu, suasananya seperti Grand Canyon, sementara warna airnya hijau. Ini adalah sebuah jalur sungai yang unik dengan air yang berwarna hijau. Namun kalau kurang beruntung setelah hujan besar, airnya akan berwarna coklat. Tapi jangan takut, hijaunya air bukanlah satu-satunya daya tarik disini. Kita akan mulai perjalanan ini dari sebuah terminal perahu, di mana arus hilir mudik perahu diatur oleh pengelola setempat agar pengunjung terlayani dengan baik. Tarif per perahunya flat, Rp 75.000,- isi berapapun penumpangnya. Kalau tidak salah, satu perahu maksimal berisi 6 penumpang. Untuk wisatawan asingpun tarifnya segitu, tidak dimahalin seperti yang terjadi di tempat wisata lainnya.

Setelah membayar tiket perahu, kami berangkat menyusuri sungai dari terminal perahu di arah hilir ke ujung jalur kapal di arah hulu. Tiap kapal berisi satu orang pengemudi perahu dan satu orang pemandu. Pemandangan indah sekali. Tebing-tebing. Kadang-kadang tampak batu tebing canyon yang tinggi memukau untuk orang kota. Pohon-pohon. Tropis. Teriakan burung-burung, Kadang-kadang tampak biawak. Atau monyet. Perahu akan bergerak perlahan menuju tujuan dalam waktu tempuh antara 15-20 menit. dan sampailah kita ke jarak maksimal. Ini adalah titik dimana lebar sungai sudah terlalu kecil untuk diarungi kapal. Dari titik ini tampak beberapa perahu lain telah bersandar. Dan selalu di titik ini, sang pemandu akan menawarkan kita untuk menjelajahi masuk ke sungai ke arah hulu. Bagi wisatawan-wisatawan yang bawa anak kecil, atau sudah tua-tua, atau berjiwa tua malas sedikit berpetualang, perjalanan Green Canyon berakhir sampai di sini. Perahu akan mengantarkan kita kembali ke terminal.

Pemandu kami menawarkan tarif Rp 150.000,- untuk mengantarkan kami menyusuri masuk ke arah hulu sungai. Untuk menyusuri jalur ini memang harus dengan pemandu karena kita akan berenang melawan arus sungai, dan pemandu akan mengetahui dengan baik jalur mana yang harus kita ambil. Selain itu, pemandu akan sangat berguna sebagai tukang foto. Tarif bisa bervariasi sesuai dengan keadaan padat/sepinya musim pengunjung, keadaan cuaca, dan ketegaan Anda dalam bernegosiasi. Sepertinya kalau high season, tarifnya akan lebih tinggi. Kemudian kami diperlengkapi dengan jaket pengaman atau life vest. Kamera kami titipkan kepada beliau, setelah kami masukkan kamera ke kotak kedap air kami, ia masukkan ke kantong kedap air miliknya, jadi pengamanan dobel bagi kamera. Dengan bantuan tali temali sebagai pegangan kami mulai menyusuri masuk. Dan memang aujubilahminjalik. Indahnya, batu-batu tebing tinggi sekali di kanan kiri sungai sementara di atas sungai tampak langit yang luas, ada stalagtit dan stalagmit yang tampak.Dan bunyi gemericik air, menyegarkan. Air menetes dari sisi atas, seperti hujan selamanya. Coba mampir di kolam putri, satu kolam kecil yang ada di bibir tebing. Atau coba melompat dari batu payung, jika nyali. Karena memang rasanya ketika melayang, sebelum nyebur itu seperti terbang beberapa sekian detik.

NB: Untuk yang siap menyusur ke bagian hulu, siapkan baju untuk nyebur, baju berenang, dan celana pendek. Untuk yang ingin foto-foto bawalah kamera kedap air, atau paling tidak lengkapi kamera Anda dengan bungkus kedap air, atau paling tidak siapkan beberapa kantong plastik untuk pelindung. Siapkan Rp 75.000,- tarif satu perahu untuk maksimal lima orang. dan Minimal Rp 150.000,- untuk tarif pemandu.

Pangandaran

Ini adalah sebuah pantai yang sangat besar dengan ombak yang besar pula. Merupakan sebuah semenanjung, pangandaran barat dan timur, dengan banyak pilihan penginapan di antaranya. Di ujung kedua pantai tersebut terdapat sebuah tanjung yang menjadi Cagar Alam Pangandaran. Sangat ramai sekali saya bayangkan kalau akhir minggu, kebetulan saya berangkat dari jakarta hari Rabu pagi, memang sengaja cuti untuk menghindari riuh-rendahnya akhir minggu dan menghindari harga penginapan akhir minggu yang sudah pasti lebih mahal dari hari biasa. DI Pangandaran banyak sekali penyewaan sepeda, sepeda motor, mobil, sampai ATV.

Tujuan kami ke sini memang bukan khusus untuk keceh-keceh maen air di pantai, tapi lebih untuk menjelajahi Cagar Alam Pangandaran. Setibanya kami di sini kami menjelajahi beberapa kandidat penginapan yang seimbang antara harga, kenyamanan, dan juga lokasi yang dekat Cagar Alam biar dekat jalan kaki.

Pertama kami lihat-lihat ke Biru Laut, tampak di depannya mobil parkir berjejer, dengan banyak bapak-bapak berpakaian batik ngobrol, sepertinya lagi ada simposium atau semacamnya. Lalu ke hotel Aquarium, harga dan fasilitas tidak sesuai harapan. Di Kembar Mas 2 juga; harga dan fasilitas tidak sesuai harapan.

Lalu mampir ke Nyiur Indah, sepertinya menarik. dengan bentuk bangunan dan lansekap seperti Bali-balian; dengan jumlah ruangan, kurang lebih 25 kamar. Sepertinya oke. Liat kamarnya pun oke. Kamar cukup bersih, tempat tidur queen size (dan dibawahnya ada tempat tidur tambahan di kanan kiri, jadi bisa untuk tidur empat orangan), ada fasilitas air panas, AC, Televisi (gak perlu-perlu amat sih), kolam renang, dan makan pagi prasmanan untuk dua orang per kamar. Tanya harga; 600 rb untuk lantai dasar dan 500 rb untuk lantai atas. Hmm mahal aja. Tapi ternyata karena hari itu bukan wiken, kami dapat potongan harga 40%, jadi Rp 300.000,- hmmm, oke. jadi kami pilih tempat itu. Dari arah pintu masuk Pangandaran, Nyiur Indah terletak setelah Hotel Biru Laut yang empat tingkat. nah di samping hotel tersebut, ada tempat mie ayam yang lumayan enak namanya Mie Acip. Informasi ini didapat dari brosing2 blog orang. Makasi mbak. Ternyata emang enak punya!

Cagar Alam Pangandaran, bayar tiket Rp 7.500,- Dari sebelum gerbang, kami sudah dua kali ditawari jasa pemandu tapi kami tolak dengan halus “Udah pernah ke sini kok pak”.

Sesampai di dalam, kami mengunjungi lokasi situs purbakala, ngobrol dengan petugas kebersihan di situ dan dia menawarkan untuk memandu kami ke lima lokasi dengan biaya Rp 50.000 dengan pertimbangan bahwa dia tahu cerita-cerita latar lokasi dan tahu jalan-jalan pintas kami putuskan untuk menggunakan jasa beliau. Kami dibawa keliling ke beberapa gua, dengan bentuk stalagmit dan stalagtit yang mirip ini itu. Beberapa gua menjadi tempat bertapa oleh orang yang cari ilmu malam-malam. Ada juga beberapa lokasi gua yang ia sebut sebagai lokasi film-film horor. Perjalanan yang cukup seru dalam waktu 1.5 jam. Sepanjang perjalanan, kami juga sempat memberi makan kijang dan monyet dengan biskuit yang kami bawa. Pesan dari akang pemandu, kita jangan tenteng-tenteng ponsel selama perjalanan karena takut disangka makanan oleh monyet yang langsung akan berusaha merebutnya.

NB: Demikianlah catatan perjalanan singkat ke daerah Pangandaran. Eh, kalau mau minta nomor telepon tempat-tempat tersebut silahkan kontak saya, akan saya lacak lagi catatannya. Browsinglah sedikit ke http://My.Pangandaran.com, cukup jelas dan membantu kok.

2 thoughts on “batu karas; green canyon; pangandaran

  1. cukup tertarik untuk menjelajahi green canyon. sebentar lagi saya akan ke bandung tapi cuma 3 hari. sepertinya waktu tersebut nggak akan cukup kalau saya harus pergi ke daerah pangandaran.. mungkin next time bisa saya coba untuk solo touring dengan motor dari surabaya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s