iron maiden in jakarta 2011. momen yang bersejarah – \m/

Tak dapat dipungkiri, Iron Maiden adalah salah satu band rock terbesar dalam sejarah yang pengaruhnya sangat terasa di segenap penjuru metal manapun pada generasi berikutnya. Di kota ini, pada masa tahun 80’an seperti tidak sah rasanya jika seorang penggemar musik cadas tidak punya kaos Iron Maiden. Kamar seorang remaja laki-laki tak akan lengkap tanpa poster karton personil Iron Maiden atau gambar Eddie, sang maskot. Pada masa itu pula saat kita berjalan di sembarang gang di daerah permukiman padat akan terdengar lagu Iron Maiden diputar kencang-kencang dari stereo set ruang tengah, kalau tidak Iwan Fals atau lagu Dangdut. Kalau hari ini kita berjalan di gang-gang, yang terdengar akan lagu Wali atau Ungu. Popularitas di Indonesia mereka mungkin hanya bisa disamai oleh Metallica yang kebetulan udah mampir di Indonesia pada waktu mereka masih jaya-jayanya, tahun 1992.

Pada pertengahan tahun 2010 terdengar kabar berita, “Iron Maiden positif akan datang ke Indonesia tahun depan!” Saya jadi ingat waktu pertama kali menonton footage hitam putih pesawat-pesawat tempur Inggris sebagai intro Aces High dalam kompilasi Hard n’ Heavy, dalam bentuk kaset video Betamax.Saya jadi ingat waktu pertama kali merinding mendengarkan kaset Seventh Son of a Seventh Son yang bernuansa mistik dengan latar belakang kisah ahli nujum. Saya jadi ingat waktu saudara sepupu saya menghadiahi saya kaos tie-dye Iron Maiden. Dimanakah kaos itu gerangan?

Iron Maiden di Indonesia! di Ancol, Jakarta dan GWK, Bali. Ini akan menjadi sebuah momen yang bersejarah bagi penggemar musik metal nusantara.

\m/

The troopers of Indonesia harus berterima kasih kepada siapapun dia di keluarga besar Iron Maiden yang punya ide menjalankan tour dengan Ed Force One, Flight Number 666. Sejak Somewhere in Time Tour (2008), Iron Maiden mulai menggunakan pesawat pribadi Ed Force One. Pesawat Boeing 757 ini aslinya memiliki kabin utama penuh dengan kursi penumpang, seperti pesawat penumpang lainnya. Namun untuk keperluan tur, sepertiga bagian kursinya dicopot dan diganti sebagai ruang untuk 12 ton kabin keperluan produksi panggung. Apalagi ini adalah pesawat dengan Bruce Dickinson sebagai pilot utamanya, sungguh langkah yang unik dan berani dan bermanfaat tentu saja untuk menaikkan profil band yang besar ini.

Jika sepanjang tahun 2010, para Troopers di Indonesia hanya dapat mendengarkan “Can I Play with Madness” di iPod saat lembur, atau sambil mencuci motor, atau saat macet sendirian di mobil jika kebetulan sang pasangan minta tidak dijemput, atau saat nongkrong bersama rekan-rekan sebaya. 17 Februari 2011 malam di Pantai Carnaval Ancol Jakarta, inilah saatnya!

Show di Jakarta dan Bali ini adalah rangkaian tur Asia Pasifik mereka. Sebelumnya, Iron Maiden main di Singapura, dan sebelumnya lagi di Moskow. Dari Twitter timeline (beberapa teman mencoba konsisten memakai padanan Indonesia, linimasa), saya jadi tahu bahwa @wenzrawk rekan jurnalis dari Rolling Stone Indonesia untuk melakukan liputan konser dan wawancara. Dan oh, dia dapat wawancara langsung dengan Dickinson, beserta tanda tangan dari beberapa barang Iron Maiden yang dia bawa (istilah dia, legalisir). Dari wawancaranya dengan Dickinson, terungkap bahwa susunan lagu dalam tur ini tidak berubah sama sekali antar satu kota dengan yang lainnya. Tidak masalah. Di titik ini saya sangat iri dengan para jurnalis musik. Damn you! @wenzrawk @adibhidayat @hasief!

16 Februari 2011 – Siang – Beberapa Jamiyah Maideniyah yang taat dari belahan penjuru nusantara bersiap menyambut Ed Force One dan Iron Maiden di Cengkareng. Mereka sepertinya sangat terharu dan dag dig dug ketika di papan pengumuman kedatangan pesawat, tampak tercatat pesawat Private, dengan nomor penerbangan 666 telah tiba dari Singapura.

Up The Irons!

17 Februari 2011 – Siang – Jamiyah Maideniyah yang berniat hadir di Ancol namun masih bekerja di tempat kerja masing-masing tampak gelisah menyambut malam itu dan kehilangan gairah untuk bekerja.

17 Februari 2011 – Sore – Saya hadir di Ancol dengan semangat berkat rekan saya @arian14022 dan @nanang. Matur nuwun sanget, bor! Muah! Jamiyah Maideniyah mulai tampak bergerak. Tampak mas-mas kantoran yang tak sempat membawa kaos hitam. Tampak anak muda, juga anak setengah muda. Berseragam hitam-hitam bergerak menuju arena, dengan rapih dan antusias. Tidak berantakan dan beringas seperti organisasi massa berseragam putih-putih yang mengaku bergerak atas nama syariah. Semua orang menggunakan koleksi kaos Iron Maiden kesayangan mereka. Yang lainnya memakai kaos hitam band kesayangan mereka seperti Anthrax, Napalm Death, The Beatles atau ST12 (maaf, yang terakhir bohong).

Rise to Remains, band metalnya Dickinson Jr. membuka pertemuan malam itu, sebagai putra altar yang mendahului sang romo. Malam yang mistis. Bulan purnama lengkap dengan cincin halo menembus awan di sekelilingnya dengan setia menerangi pantai reklamasi Carnaval Ancol. Umat metal malam itu bertegur sapa, teman lama, kenalan baru antusias menjalankan malam ini. Naik haji metal, katanya.

Tata panggung dengan nuansa masa pesawat antariksa tampak sangar menyesuaikan dengan tema tur The Final Frontier. Lampu dari rangka panggung yang menerangi penonton mulai dimatikan. Kami berteriak kencang menyambut Iron Maiden yang akan segera tampil. Malam itu dibuka dengan Intro seperti yang terdapat di The Final Frontier (2010). Rekaman intro berputar (tidak live) dengan video yang muncul di layar, kanan kiri panggung utama. Video sains fiksi mengenai perjalanan luar angkasa dimainkan, tampak animasi Major Eddie mengemudikan pesawat itu. Video dilanjutkan dengan lagu “The Final Frontier” sontak publik bersorak sorai menyambut idola yang telah ditunggu-tunggu sejak lama. dilanjutkan dengan “El Dorado” yang sukses menghadiahi Grammy pertama bagi Iron Maiden. Kemudian pembuka “2 Minutes to Midnight” yang lebih familiar menjadi teriakan yang sangat keras bagi penonton.

Seperti yang tampak di video-video live yang sebelumnya menjadi satu-satunya referensi, Bruce Dickinson tampak sangat fit, lari kesana-kemari menguasai panggung. Sambil menyanyi melengking-lengking ia bernyanyi berekspresi dengan gestur tangan seperti seorang tukang kentrung (Bahasa Inggrisnya, Trobadour) bercerita. Nicko McBrain sibuk sendiri di balik set drumnya yang tinggi menutupi posturnya yang padahal tinggi. Ia kadang terlihat iseng lewat kamera yang berdiri di sampingnya. Steve Harris dan Janick Gers di sisi yang sama. Harris sering tampak memainkan bassnya seakan sambil menembaki siapa yang melihatnya. Sementara Janick sering joget sendiri dengan gitarnya. Dave Murray dan Adrian Smith tampak berbagi panggung di sisi lainnya. Mereka tampak lebih santai.

Kalau di video atau rekaman live Iron Maiden, tampak bahwa Bruce Dickinson selalu berteriak lantang “Scream for me, … (isi dengan nama kota tempat manggung)” Sekarang saatnya Jakarta!
Bruce: “Scream for me, Jakarta!”
Troopers: Whooooooooooooooo!
Bruce: “Scream for me, Jakartaaa!” (dengan suara lebih melengking)
Troopers: Whooooooooooooooo! (dengan suara lebih keraas)

Kemudian saatnya “The Trooper”. Stormtrooper-15419 telah bergabung dengan Iron Maiden Troopers. Artwork panggung kemudian berubah sebelum lagu ini dimainkan. Tampak gambar Eddie dengan Union Jack, lalu ternyata Dickinson pun masuk dengan seragam tentara Inggris masa silam dilengkapi juga dengan Union Jack. Bahwa orang berbeda-beda agama, berbeda suku bangsa dan bangsa bersatu sebagai keluarga besar Iron Maiden, menjadi topik orasi Dickinson mengawali lagu “Blood Brothers”, bener sih kenyataan itu. Tampak beberapa londo dengan tato-tato Eddie di lokasi. Juga beberapa orang Jepang.

Woo woo woo woo woo woo. Woo woo woo woo woo woo. Fear of the Dark! Melodi lagu Iron Maiden memang menjadi unsur penting yang membuat mereka banyak digemari. Ketika “Iron Maiden” dimainkan, muncullah Eddie versi robot alien seperti di sampul album “The Final Frontier”, tampak lebih tinggi dari para gitaris.

Kemudian mereka silam. Panggung gelap. Kalau membaca setlist, kita akan tahu bahwa ini belum usai. Muncul rekaman narasi yang mengawali lagu “The Number of The Beast” gegap gempita kembali! Setelah “Hallowed Be Thy Name”, lagu “Running Free” menjadi perpisahan malam itu. Segenap Troopers Indonesia beringsut pulang dengan senyum merekah. Telah menjadi bagian dari sejarah. Status anak metal, sah sudah.

Setlist;
1. Satellite 15 … The Final Frontier
2. El Dorado
3. 2 Minutes to Midnight
4. Coming Home
5. Dance of Death
6. The Trooper
7. Blood Brothers
8. The Wicker Man
9. When the Wild Wind Blows
10. The Talisman
11. The Evil That Men Do
12. Fear of the Dark
13. Iron Maiden

Encore:
14.The Number of the Beast
15. Hallowed Be Thy Name
16. Running Free

Blog lainnya tentang Iron Maiden di Jakarta.
http://unclebowl.wordpress.com/2011/02/19/shhek-kriim-for-me-jakartaaaaaaaaaahh/
http://mone.blogdetik.com/2011/02/18/konser-iron-maiden-tetap-garang-meski-tak-muda-lagi/
http://www.uncluster.com/IN/2011/02/iron-maiden-live-in-jakarta-2/
http://elexyoben.wordpress.com/2011/02/19/iron-maiden-the-world-frontier-2011-indonesia/

One thought on “iron maiden in jakarta 2011. momen yang bersejarah – \m/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s