belki bolang (2010); jakarta, je t’aime

Jakarta, ini adalah hubungan kasih yang benci tapi rindu. Seperti membenci semua hal tentang ibukota, namun begitu kehilangan dan dimabuk asmara ketika berpisah sesaat. Seperti acuh namun mau tauuu aja. Jakarta adalah magnit. Adalah nafkah. Adalah inspirasi.

Di Jiffest 2010 kali ini saya menonton Belki Bolang. Ini adalah sebuah omnibus; beberapa film (pendek) yang dirangkai menjadi sebuah film. Konon kabarnya ini film tentang Jakarta di waktu malam. Sewaktu saya menonton Paris je t’aime (2005) 20 film pendek dengan latar tempat Paris, saya membayangkan film yang sama mengenai Jakarta. Sewaktu saya menonton New York, I Love You (2009) 11 film pendek dengan latar tempat New York, saya membayangkan hal  yang sama. Dan sekarang, film itu sudah hadir. Beruntung saya dan istri mendapatkan undangan pemutaran perdana Belki Bolang, karena di lobi Blitz tampak beberapa orang yang tidak mendapatkan tiket; terlihat dari mereka yang masing-masing memegang kertas ukuran A4, bertuliskan, “yang punya tiket lebih, bagi dong” atau semacamnya.

Ekspektasi saya, ini akan menjadi film yang menarik. Karena sembilan film pendek dari sembilan sutradara menjadi sembilan sudut pandang berbeda mengenai Jakarta dan segala amburadulitasnya. Oh, ternyata kesembilan film pendek tersebut semua naskahnya ditulis oleh Titin Wattimena. Ternyata sesuai ekspektasi, film ini menarik sekali.

Dengan Meiske Taurisia dan Titin Wattimena sebagai produser, kesembilan karya film tersebut adalah;

‘Payung’ disutradarai oleh Agung Sentausa,

‘Percakapan Ini’ disutradarai oleh Ifa Isfansyah,

‘Mamalia’ disutradarai oleh Tumpal Tampubolon,

‘Planet Gajah’ disutradarai oleh Rico Marpaung,

‘Tokek’ disutradarai oleh Anggun Priambodo,

‘Peron’ disutradarai oleh Azhar Lubis,

‘Ella’ disutradarai oleh Wisnu Surya Pratama,

Rollercoaster disutradarai oleh Edwin, dan

‘Full Moon’ disutradarai oleh Sidi Saleh

Ojek payung, ada. Kontrakan, ada. Obat bius, ada. Halte Busway, ada. Tetangga, ada. Stasiun kereta, ada. Bebek bakar, ada. Hotel jam-jaman, ada. Taksi, tentu saja ada. Yang tak ada hanyalah eskimo dan penguin.

Sempatkanlah menonton film ini. “Karya sutradara-sutradara muda dan berbahaya”, kata Ucu. Saya gak bisa banyak cerita, karena meskipun saya senang membagi bagian-bagian penting dengan Anda mengenai film ini. Tapi, semua orang senang kejutan bukan? Eh, jangan bawa anak di bawah umur kalau mau nonton Belki Bolang. Well, Harry Potter 7 aja gak cocok buat anak kecil, apalagi yang ini. Seriously. Karena Jakarta tidak seperti di iklan-iklan koran dan majalah.

Kota ini Kembang Api” kata Anya Rompas. “Aku, Cin-ta J-A-K-A-R-T-A,” kata teman-teman dari C’mon Lennon. Sementara, (Alm.) Andi Meriem Matalatta berdendang tentang “Lenggak Lenggok Jakarta” Kalau rekan-rekan Seringai, malah ingin “Membakar Jakarta”. Belki Bolang adalah sembilan sudut pandang mengenai Jakarta di waktu malam. Jakarta yang hujan; banjir air, banjir demo, dan banjir cinta.

Belkibolang (2010) digital ; 87 minutes.

Indonesian with English Subtitle

Kalau ingin bikin nobar film ini, hubungi belkibolangfilm@gmail.com

4 thoughts on “belki bolang (2010); jakarta, je t’aime

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s