menonton vampire weekend di jakarta contra!

Menonton Vampire Weekend manggung di Jakarta adalah seperti mimpi yang terwujud jadi nyata.

Saya pertama kali mendengarkan tentang Vampire Weekend adalah dari tulisan Wenzrawk di Multiply pada tahun 2007. Kemudian saya menuju link ke lagu Vampire Weekend yang dibagi dalam tulisan tersebut. Cape Cod Kwassa Kwassa, sungguh judul lagu yang tidak umum. Lagu ini unik. Bertempo sedang, dengan nada-nada yang berbau Afrika. Yang menurut banyak orang terinspirasi oleh ‘Graceland’ karya Paul Simon. Well, nothing new under the old sun, right? Lirik lagu ini cukup ajaib dengan memadukan beberapa kata berima sama seperti; Louis Vuitton-Reggaeton-dan-Benetton.

Saya lalu mendengarkan lagu-lagu mereka yang lain. Lagu-lagu ini saya malah teringat kepada beberapa karya musik dari tahun 80-an, seperti The Police, Dexy’s Midnight Runners, Man at Work, dan Peter Gabriel. Saya bisa bilang bahwa album mereka, Vampire Weekend (2007) dan Contra (2009) layak menjadi barang koleksi, di tengah harga CD impor yang sangat mahal dan godaan mengunduh gratisan dari rapidshare / torrent / 4shared yang sangat besar.

Seperti …

Seperti saya bilang di awal, menonton Vampire Weekend manggung di Jakarta adalah seperti mimpi yang terwujud jadi nyata. Mimpi karena menonton band indie yang ‘spesifik’ seperti ini datang ke Jakarta seperti tidak mungkin. Tapi bisa nyata karena sejak pada tahun 2006, Kings of Convenience manggung di Jakarta pada tahun 2006; banyak band yang manggung di Jakarta meskipun karya mereka hanya diketahui oleh pendengar yang tidak banyak dan tidak dikenal oleh publik yang luas, sebut saja Nouvelle Vague, Mae, Dying Fetus, Sondre Lerche, Copeland, dan As I Lay Dying. Terima kasih kepada teknologi *.mp3 dan pemutar musik digital, semakin sah bahwa masing-masing orang punya selera musiknya sendiri, dalam kapsul kehidupannya masing-masing. Dan setiap artis manggung di Jakarta akan didatangi oleh publiknya masing-masing.

Dan pada tanggal 24 Oktober 2010, mimpi saya menonton Vampire Weekend menjadi nyata karena mereka hadir di Bengkel Night Park, Jakarta, Indonesia. Sejak beberapa hari sebelumnya, sudah tampak di timeline Twitter dan Facebook saya; siapa saja rekan yang akan berangkat menonton Vampire Weekend karena mereka tuliskan bahwa mereka sedang mendengarkan ‘A-Punk’ atau ‘Horchata’ atau ‘White Sky’ atau ‘ Oxford Comma’ dari Vampire Weekend. Di timeline yang sama, juga tampak beberapa teman yang baru paham bahwa Vampire Weekend adalah nama band, bukanlah sebuah kegiatan untuk menghabiskan akhir pekan dengan menonton film-film vampir hollywood, terutama serial Twilight-New Moon-Eclipse yang digemari remaja putri. Ternyata ada nyambung-nyambungnya juga karena lagu “Jonathan Low” karya Vampire Weekend termasuk dalam Original Soundtrack film Eclipse (2010).

Monkey to Millionaire mendapat kehormatan membuka pesta malam itu. Saya cukup menikmati ‘Lantai Merah’ (2009), debut album mereka, musik rock yang diusung ketiga pemuda tersebut sangat nyaman dinikmati. Melodi yang sederhana dipadu dengan lirik lagu yang baik dan lugas, membuat karya mereka mudah menempel di hati. Coba saja dengarkan karya mereka, ‘Replika’ atau ’30 Nanti’.

Vampire Weekend membuka perjumpaan malam itu dengan ‘Holiday’. Ezra Koenig tampil dengan gitar Epiphone Sheraton II kayaknya mirip dengan yang dipakai oleh Tom DeLonge bersama Angels and Airwaves. Rostam Batmanglij tampil dengan gitar putih dan seperangkat peralatan sholat keyboard. Rostam kadang main gitar kadang main keyboard. Dengan kaus seragam basket Chris Tomson tampak jangkung duduk di belakang set drumnnya yang tampak mungil atau memang mungil. Chris Baio di tepi mencekal bassnya sambil sesekali melompat lincah.

Bermodalkan dua album penuh dan beberapa singel lepas, mereka sudah sukses mengajak penonton malam itu berdansa dan bersuka cita. Bengkel menjadi seperti arena senam pagi dimana semua publiknya senang hati mengikuti permintaan Ezra dan kawan-kawan.

“Berdansalah secepat-cepatnya karena lagu ini cepat!” kata Ezra sebelum memulai A-Punk. Dan publik berdansa. “Angkat tangan kalian ke udara, dengan jari-jari terbuka” dan lagu mengiringi tari kecak masal malam itu. Setelah beristirahat sejenak. Vampire Weekend kembali memberikan lagu ‘bonus’ berupa sajian ‘Horchata’ yang malam itu mereka bawakan lebih syahdu dari versi di rekaman album ‘Contra’. Rostam tampak duduk di tepi dengan keyboard Casio ciliknya. Dilanjutkan dengan ‘Mansard Roof’. Lagu ‘Walcott’ menutup perjumpaan malam itu. Semua orang yang hadir pada malam itu setuju bahwa pertunjukan malam itu adalah pertunjukan musik terbaik yang mereka tonton pada tahun 2010, atau malah salah satu pertunjukan musik paling seru yang pernah mereka tonton.

Go On. Go On. Go On.

Encore:

One thought on “menonton vampire weekend di jakarta contra!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s