java rockin’land 2010 – smashing dan band-band lainnya

Yeah, JRL kali ini memang sangat berarti untuk saya, karena panitia berhasil mendapatkan jadwal JRL Smashing Pumpkins, salah satu band rock terbesar pada era 90-an. Pengalaman nonton JRL tahun lalu, pada hari kedua nonton Mr. Big, dan pada hari ketiga saya nonton Third Eye Blind dan Mew, dan ternyata Mew-lah yang sukses membuat saya puas. Pada tahun ini,  Smashing Pumpkins adalah band yang membuat saya harus hadir di perhelatan musik cadas selama tiga hari ini.Kesan saya tentang Smashing Pumpkins saya tulis di blog post tersendiri. Berikut ini adalah band-band yang saya tonton penampilannya di JRL.

Pada panggung malam itu, Zeke Khaseli tampil dengan diiringi pemusik pendukung dengan beberapa orang berjas hujan yang sebenarnya adalah musisi indie ternama, seperti Cholil dari Efek Rumah Kaca, Anda Perdana, Aan dari D’zeek dan Yudhi Arfani dari Everybody Loves Irene. Selain itu ada juga Barack Obama, dan Alien di planet bumi. Aliran musiknya, menurut MySpace adalah Folk Rock / Indie / Alternative. Untuk mengetahui lebih lanjut, carilah albumnya Salacca Zalacca yang diproduksi oleh Jangan Marah Records.

Raksasa Project mengusung musik cadas yang menghentak straight forward dengan usungan hard rock. Semacam supergrup, gerombolan ini digawangi oleh Adi Cumi Fable sebagai vokalis, Bonny DeadSquad sebagai penggebuk, Pepeng Naif sebagai pencabik drum, dan Iman Fattah Zeke and The Popo bersama Adrian Adioetomo sebagai penyayat gitar. Sepertinya, albumnya belum dapat ditemukan di toko-toko musik kesayangan Anda.

Nadya Fatira tampil di panggung dengan lagu karyanya sendiri diselingi dengan Blitzkrieg Bop karya The Ramones dan Minority karya Green Day yang katanya dia adalah inspirasinya. Albumnya yang berjudul XXX telah beredar di toko-toko musik kesayangan Anda.

Burgerkill?

Burgerkill adalah salah satu penampil metal kugiran yang telah berhasil mengembangkan kawasan Ujung Berung, Bandung sabagai salah satu daerah penghasil musik metal yang dihormati di Indonesia. Beberapa bulan lalu mereka melangsungkan tur di Australia. Sepertinya saya harus mencari lagi buku Scumbag yang terselip entah dimana di rumah. Myself: Scumbag yang merupakan biografi Ivan Scumbag, mendiang vokalis Burgerkill.

Datarock yang hadir dari dinginnya udara Norwegia menghangatkan suasana malam Sabtu tersebut dengan lagu-lagunya yang adalah hibrida antara musik cadas dan musik dansa elektronika. antara Fa fa fa dan sol sol sol, mereka telah membuat lumpur lapangan Ancol menjadi lantai dansa pada malam tersebut.

Smashing Pumpkins? Mencengangkan!

Slank tentu saja adalah grup rock terbesar di Indonesia saat ini. Hanya mereka yang dapat memaksa penyelenggara acara menyiapkan ruang areal khusus untuk para penggemarnya, Balaslank/ Sobat Slank/ Slankers, untuk menyerap aspirasi penggemar Slank yang tak kuasa mengeluarkan kurang lebih 300.000 rupiah untuk menonton acara musik hingar bingar malam itu.

Superglad, hanya mendengar lagu mereka sambil lewat, mereka nyanyikan lagu yang menjadi bahan canda di tempat tongkrongan, dengan lirik-lirik yang jorok. Saya lupa bagaimana persisnya lirik tersebut. “La-la la la la la la jem … (but), Li li li li li li kontingen .. (tot).” Ya begitulah kira-kira

Lull yang tampil dengan bantuan Thedyingsirens malam itu membawakan sejumlah lagu yang terinspirasi kental Placebo, Smashing Pumpkins, dan musik-musik cadas sejenisnya. Di malam tersebut mereka juga dengan sukses membawakan I Feel You karya Depeche Mode dan Pinion dari Nine Inch Nails.

Suri, stoners rock, dengan musik cadas yang katanya enak dinikmati sambil Setun, memarut gitar dengan riff-riff antara Alice in Chains, Down, Kyuss, dan semacamnya. Setidaknya begitulah menurut kesaksian kuping saya.

Arkarna, tampil dengan tembang-tembang populernya seperti tentu saja So Little Time, House on Fire, Life is Free dan Rehab. Keramahan penyanyi utama mereka yang terus-menerus memuji Jakarta dan publik malam itu, membuat saya bertanya-tanya jangan-jangan sebentar lagi mereka akan menetap di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Maribeth dari Filipina atau Mike Tramp dari White Lion.

Dashboard Confessional tampil lagi di Indonesia untuk yang kedua kali setelah tampil dalam Ponds Teen Concert pada bulan Juni 2010. Tentu saja lagu-lagu mereka yang merupakan curhat tanpa ada ujungnya telah sukses membuat para penonton menyanyi bersama, terutama pada perempuan. Dry your eyes! Dry your eyes!

seperti DC, Stereophonics juga sukses membuat para penonton menyanyi bersama, terutama pada perempuan. Meskipun minim komunikasi dengan penonton, mereka juga telah sukses membuat para penonton menyanyi bersama, terutama pada perempuan. Kebetulan saya kenal empat lagu mereka dan hanya tahu dua judul lagu mereka, Have a Nice Day dan Dakota.

Yang tidak saya tonton di JRL kali ini adalah; Band post-grunge asal Australia The Vines yang di Jakarta, ini telah berhasil membawakan XX lagu dalam tempo XX menit saja! Wolfmother, band yang musiknya mengembalikan pendengar ke masa-masa klasik rock ala Led Zeppelin, Deep Purple memuaskan penggemarnya di Indonesia. Stryper. Apakah mereka masih tampil dengan kostum kulit berwarna hitam dan kuning?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s