tentang film g30s/pki (1984)

Ingat tanggal 30 September, saya jadi ingat film G30S/PKI.

Film Gerakan 30 September (1984) atau yang lebih populer dengan Pengkhianatan G30S/PKI, disutradarai oleh Arifin C Noer adalah film yang mungkin telah ditonton dan direkam dalam ingatan oleh publik yang paling luas dalam sejarah Film Indonesia. Ditayangkan secara nasional, setiap tahun, pada tanggal 30 September, film ini ditonton oleh semua rakyat Indonesia ‘dari Sabang sampai Merauke’ (yang ditambah oleh Dorce dengan “dari Tenabang sampai Rawa Bangke). Terima kasih juga kepada pemutaran film ini yang ‘wajib’ di sekolah, coba dicek kepada guru-guru yang bertugas waktu itu. Zaman Orde Baru.

Jika Twitter sudah ada waktu itu, #TrendingTopic sebelum/ pada saat/ dan setelah pemutaran film ini akan dipenuhi dengan #hashtag #G30SPKI. Jika Foursquare telah ada waktu itu, Super Swarm Badge akan mudah didapat di lokasi-lokasi pemutaran film ini, baik yang memang hadir di lokasi maupun yang hadir secara remote cheat.

Masing-masing orang ingat satu bagian tertentu dari film ini. Ada yang selalu ingat bagian saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Ada yang ingat bagian saat para aktivis PKI rapat di ruangan penuh asap rokok, lengkap dengan lampu gantung, asbak, dan rokok kreteknya. Tentunya banyak yang ingat dengan adegan beberapa perempuan PKI-wati Gerwani yang berdansa riang sambil bernyanyi. “Darah itu Merah Jenderal!”

Hasil dari penayangan film ini secara masif adalah orang jadi takut kepada PKI dan komunisme. Orang jadi takut menyanyikan genjer-genjer atau bahkan menyimpan rekaman lagu itu. Sekarang di YouTube ada yang menunggah Genjer-genjer yang dibawakan oleh Bing Slamet. Bahkan orang jadi berbisik-bisik saat menyebut kata ‘komunis’. Takut didengar orang lain, yang siapa tahu intel. Orang jadi lupa bahwa setelah tahun 1966 banyak orang mati terbunuh karena diketahui adalah anggota PKI atau diduga mirip PKI. Ribuan? Ratusan ribu? Jutaan? hanya Tuhan yang tahu.

Sebuah film tentang masa lalu, tentu saja perlu rekayasa (dalam artian, membangun kembali sesuatu seperti yang dibayangkan terjadi pada masa tersebut). Apalagi sebuah film berlatar belakang sejarah. Pembuat film tentu harus mengikuti keperluan dramatisasi film supaya pesan sampai kepada penonton, ditambah dengan penyesuaian sudut pandang pembuat film tersebut (baca; PPFN, Pusat Produksi Film Negara) Seperti belajar banyak dari Joseph Goebbels, propagandis kesayangan Hitler, film ini telah menakuti banyak orang. Eh, maaf saya hanya berasumsi. Izinkan saya sedikit bertanya kalau demikian.

Guys, film yang mana yang lebih menakutkan?

a. Pengkhianatan G30S/PKI,

b. Jelangkung,

c. Setan Kredit

d. Sundel Bolong, atau

e. Malam Dua Suro?

Film Pengkhianatan G30S/PKI menjadi salah satu dari film Indonesia yang berlatar sejarah. Jika Anda ingat film ini tentunya akan ingat film Janur Kuning dan Serangan Fajar. Selain itu, ada juga  film Cut Nyak Dhien, Wali Songo, dan Sang Pencerah yang sepertinya masih tayang di bioskop kesayangan pemiliknya. Janur Kuning dan Serangan Fajar, saya lupa ceritanya tapi masih ingat tokoh si Temon yang mencari ibunya. Cut Nyak Dhien, kayaknya saya belum nonton. Wali Songo juga, hanya ingat adegan gledeknya. Komentar saya tentang Sang Pencerah, kurang lebih sama dengan komentar teman saya tentang film ini di multiply-nya.

Eh, saya jadi ingat bahwa saya harus mengembalikan VCD film ini milik @violeteye. Segera saya kembalikan ya nyak =)

BTW, malam ini  film Pengkhianatan G30S/PKI akan diputar di televisi atau tidak malam ini?  Coba deh, puter. Dugaan saya sih, ratingnya bakal tinggi. Gimana TVRI? Halo?

8 thoughts on “tentang film g30s/pki (1984)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s