steve rubel, live in jakarta

Steve Rubel datang ke Jakarta!

Eh, siapa? Belum tahu siapa Steve Rubel? Bagi publik umum, Steve Rubel mungkin tidak seterkenal Steve Jobs (si juragan apel), Steve Vai (si penyihir berkedok gitaris) ataupun Almarhum Steve Irwin (si pawang buaya yang wafat diterkam buaya tersengat stingray di laut). Namun demikian, Steve Rubel di dunia social media adalah tokoh yang populer dan terpandang. Ia adalah salah satu pakar dan pelaku Digital PR yang sering berbagi ilmu lewat blognya dan artikel-artikelnya di beberapa situs online. Ia sejajar dengan tokoh social media lainnya seperti Mashable, Robert Scobble, dan lain-lain. Saat ini Steve Rubel menjabat sebagai Senior Vice President, dan Director of Insights untuk Edelman Digital.

Seperti kita tahu, social media di Indonesia berkembang pesat saat ini, dapat dikatakan lebih pesat dibandingkan negara-negara tetangganya. Ini ditandai dengan perkembangan pengguna Facebook yang diperkirakan hampir mencapai 19 juta pengguna per Maret 2010 dan Jakarta yang dianggap kota dengan pengguna Twitter paling aktif.  Ini adalah fakta yang menarik untuk diamati, termasuk oleh Steve. Dalam kunjungannya yang cukup singkat ia menyempatkan diri untuk berbagi dan berkenalan dengan pelaku social media di Jakarta.

Dalam presentasinya, Steve berbagi banyak hal. Berikut ini adalah hal-hal yang menurut saya bermanfaat untuk diketahui dan dibagi.

Informasi sebagai Kudapan

Dengan tersedianya jaringan pita lebar yang jaringannya makin meluas, semakin banyak orang yang menyentuh Internet lewat telepon genggam. Ditambah dengan semakin terjangkaunya varian laptop dan netbook. Menjelajah Internet tidak lagi jadi ritual yang harus menghabiskan waktu tertentu di  tempat tertentu, misalnya di warnet atau di rumah rekan yang berlangganan Internet seperti beberapa tahun sebelumnya.

Penjelajahan Internet menjadi kebutuhan yang dapat ditunaikan dimana saja kapan saja asalkan telepon genggam kau bawa, cukup pulsanya dan tidak low-batt. Kita cek Facebook di saat luang dan update Twitter di saat sempat. Internet sebagai informasi dikunyah lebih renyah sebagai kudapan ringan. Apa lagi informasi bertebaran dimana-mana di Internet, sesuatu yang telah diungkapkan Duran-duran lewat Too Much Information beberapa belas tahun silam. Informasi harus bersifat ringkas dalam potongan-potongan kecil dan padat. Karena pemirsa menikmati informasi sebagai kudapan, di lain sisi pihak yang menyediakan informasi harus mampu menyajikan informasi sebagai kudapan yang enak dan bergizi. Informasi harus disajikan secara padat dan singkat tanpa kehilangan isi.

Penempatan Duta dan Kedutaan dalam jaringan

Internet telah berkembang begitu pesat dalam fragmen-fragmen yang spesifik dan otonom. Belasan tahun lalu Internet adalah email, mailing list dan chatting IRC. Lalu berkembang chat room lainnya seperti MSN chat, Yahoo Messenger, ICQ, dll. Lalu berkembang social networking seperti Friendster, MySpace, dan Hi5. Ada yang tenggelam dan ada yang bertahan. Lalu berkembang ina inu ina inu. Dan sejak pertengahan 2009 sampai saat ini (paro awal 2010) yang (masih) banyak dibicarakan adalah Facebook dan Twitter. Lalu sempat muncul kehebohan Google Wave tapi kok sekarang gak kedengeran lagi. Dari dalam negeri terdengar gema Koprol dan Domikado. Akhir-akhir ini mulai muncul banyak bahasan mengenai Foursquare, yang mari kita ikuti perkembangannya.

Nah, dari kanal yang sedemikian banyak, Rubel menyarankan sebaiknya semua pihak punya perwakilannya di kanal yang berbeda-beda. Misalnya harus hadir di Facebook, Twitter, dan Koprol sesuai dengan target yang dituju. Setiap individu atau institusi atau badan usaha seyogyanya mengamati perbincangan yang terjadi dalam jaringan Internet dan menempatkan wakilnya di kanal-kanal agar dapat berkomunikasi dengan khalayak umum mengenai diri individu, institusi atau badan usaha yang diwakilkan.

Use the Force, Don’t Fight it.

Itulah yang diajarkan Yoda kepada Luke Skywalker dalam kisah Star Wars. Kita harus memahami dengan baik alam tempat kita memijak dan menggunakan dengan baik potensi yang kita punya. Tentunya setiap pihak harus memahami adat istiadat dan kebiasaan di masing-masing tempat atau kanal. Karena kebiasaan warga India di Internet tentu saja berbeda dengan kebiasaan warga Indonesia. Bahkan aturan di Twitter berbeda dengan aturan yang berlaku di Facebook.

Keteledoran yang biasanya terjadi adalah kita mengira kita bisa berbuat apa saja di Internet berkata sebebas-bebasnya. Lupa bahwa Internet adalah lapangan luas di mana semua orang dapat melihat apa yang kita lakukan dan apa jejak yang kita tuliskan. Hadir di Internet artinya siap menerima kehadiran orang lain juga, bahwa segala yang kita lakukan harus siap mendapatkan tanggapan dari pihak lain; dalam hal ini kritik, kalau pujian pasti diterima lah. Setiap respon harus disikapi secara arif dan bijaksana. Seperti Yoda.

Sangat mungkin pemahaman saya tidak sejalan dengan maksud sesungguhnya yang disampaikan oleh Rubel. Untuk tahu lebih lanjut mengenai beliau, silahkan kunjungi blognya, http://www.steverubel.com/ atau hubungi dia lewat email.

Materi Presentasi Steve Rubel di Jakarta

Tulisan lain mengenai Steve Rubel di Jakarta;

Tulisan Vishnu Mahmud

Tulisan Salsabeela

Tulisan Arikeren

Artikel di Antara News

Artikel di Inilah.com

Artikel di Teknologinet

3 thoughts on “steve rubel, live in jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s