java jazz 2010; antara java jazz (the band), leonardo, anda, legend, tohpati, sheila, dan bob

Terima kasih kepada @KompasUrbana, karena kuisnya di Twitter, saya bisa berangkat dan menonton perhelatan jazz besar di Jakarta, Axis Java Jazz Festival 2010 yang setelah berkali-kali digelar di Senayan, kali ini diboyong ke Kemayoran di hari Jumat sore itu.

Dalam kesempatan ini saya hanya akan bicara musik jazz dan penampil musik. Saya tidak akan bicara tentang pendapat-pendapat yang muncul tentang acara ini. Mengenai jauhnya lokasi acara (kata sebagian orang), mengenai kurang banyaknya akses masuk/keluar parkir (menurut saya sih tidak demikian), mengenai angkuhnya petugas keamanan di pintu masuk (harus teriak-teriak untuk minta membuka tas), mengenai sangat buruknya kualitas sinyal telekomunikasi di lokasi (ada yang berspekulasi terjadi blokade, bisa jadi karena traffic lebih besar dari kapasitas yg sangat terbatas sekali saja), ataupun mengenai adanya kabar-kabar kedatangan RI 1 untuk hadir di acara (Keadaan lalu lintas Sabtu malam + ramai Festival + bonus Rombongan konvoi VVIP = Wassalam)

Mari kita bicara musik jazz dan penampil musik yang saya tonton hari Jumat itu.

Java Jazz yang saya maksud di sini adalah sebuah band yang digawangi Indra Lesmana, Donny Suhendra, Dewa Budjana, Mates, dan Gilang Ramadhan. Band ini berdiri jauh sebelum Java Jazz Festival digagas. Menarik tentunya menyaksikan anak ajaib jazz Indonesia tampil bersama rekan-rekannya yang jago-jago pula. Mereka memainkan lagu-lagu dari album mereka yang terbaru, “Joy Joy Joy”. Tak lupa mereka bawakan “Bulan di Atas Asia” lagu indah yang mereka persembahkan Alm. Embong Rahardjo, anggota keenam Java Jazz.

Leonardo Ringo meneruskan pengembaraan musikalnya setelah Vessel (yang berbendera Modern Rock) dan Zeke and The Popo (mengusung campuran unsur Folk / Post Rock). Kali ini, Leonardo dengan album The Sun yang baru keluar mengusung pop gado-gado dengan roti Alt. Rock era 90-an, ditambah bumbu Soul dan sedikit rempah Jazz. Malam itu ia membawa beberapa teman Brass untuk memperkuat penampilannya. Silahkan nikmati Leonardo di Myspace.

Anda with the Joints tampil seperti biasa, maksimal! Lagu-lagu dari album In Medio ia bawakan dengan versi yang berbeda dari album, seperti biasanya penuh kejutan musikal tanpa gimmick-gimmick spesial yang tak perlu. “Dalam Suatu Masa” enough said. Silahkan curi dengar Anda with the Joints di MySpace.

John Legend tampil malam itu sebagai penampil utama dengan tiket tambahan yang tidak murah. Saya tidak berhak berkomentar tentang Legend karena saya tidak menonton penampilannya. Sebabnya, saya tidak menggemarinya. Komentar singkat dari teman saya yang gemar menggerutu, yang menonton pertunjukkan Legend malam itu adalah; Legend tampil baik malam itu (namun tidak sangat baik atau sempurna) dengan tata suara yang tidak sempurna. Tambahnya, penonton malam itu hanya menanti-nanti “Ordinary People” saja.

Saya berangkat ke ruang tempat Tohpati and Friends tampil dengan modal pengetahuan terbatas; dua lagu kolaborasi Tohpati, Lukisan Pagi dengan Shakila dan satu lainnya dengan Glenn Friedly. Lagu-lagu tak keras dan melodius. Ketika saya masuk ke ruangan, Tohpati menyambut dengan lagu-lagu yang kencang dan keras, meski tak sekencang dan keras Seringai dari kubu Metal. Tohpati dan kawan-kawan tampil penuh semangat dengan pasangan drummer handal dan kendanger bandel. Juga dengan saksofon dan suling bambu.

Tak terasa sudah 25 tahun Sheila Majid hadir di publik musik Indonesia dengan Antara Anyer dan Jakarta sebagai perkenalan perdananya. Malam itu ia tampil cantik dengan kemeja putih dan rok panjang hitam dan suaranya yang membuat rindu. Saya lihat di kerumunan penonton tampak gadis-gadis remaja yang bernyanyi-nyanyi bersama kelompoknya dan juga mas-mas gahar dengan tato melingkar-lingkar berdansa-dansa kecil dengan lagu sang biduanita malam itu. Sheila adalah “Legenda” hidup.  Sheila mengungkapkan kepuasannya tampil di pertunjukan malam itu lewat Twitter.

Perjalanan jazz saya malam itu ditutup dengan penampilan Bob James, yang sebelumnya hanya saya tonton di televisi. Seperti saya lihat di layar kaca, Uncle Bob tampil dengan pianonya seperti seorang opa-opa yang kikuk. Sungguh penampilan yang menarik dari Bob dan jazz troopernya. Tak lagi masalah bahwa saya hanya kenal satu saja lagu Bob James, “Restoration”

Enough jazz already, let’s go to Kwangtung Pecenongan and eat some bubur ayam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s