ciputat di antara situ gintung dan suspek teroris.

yoshi ciputat

Kemarin, pada suatu siang setelah sholat Jumat, beredar berita bahwa terjadi kejadian penggrebekan dua suspek teroris di kawasan Ciputat Timur, Banten oleh Densus 88. Mereka adalah Syaifuddin Zuhri dan Mohammad Syahrir, yang diketahui sebelumnya meledakkan mercon berkekuatan ledak lumayan dengan tambahan paku dan gotri di Marriott dan Ritz Carlton pada tanggal 17 Juli 2009.

Kejadian itu mengingatkan saya kepada beberapa kejadian lain yang terjadi sebelumnya.

Penggrebekan tersebut mengingatkan saya kepada rangkaian pengejaran Densus 88 ke segenap penjuru pulau Jawa terhadap gerombolan perakit bom yang dikenal sebagai sempalan jaringan Jamiyah Islamiyah. Beberapa tahun yang lalu di Malang, mereka dapat Azahari. Kemudian, di Bandung, mereka hampir dapat menangkap Noordin M Top. Lalu, pada tahun 2009 bom meledak di Marriot untuk yang kedua kalinya. Anggota Densus 88 kembali harus lembur untuk menangkap gerombolan tersebut. Pengusutan di Jati Asih membawa mereka ke Temanggung, dan di lokasi mereka menyergap Ibrohim yang pada awalnya mengaku-aku sebagai Noordin. Beberapa minggu berselang, di Surakarta mereka menangkap Noordin. Tersebarnya lokasi-lokasi penangkapan teroris itu di pulau Jawa sebenarnya bisa dijadikan paket tujuan wisata potensial bagi peminat jejak rekam para teroris itu; orang-orang yang terlalu banyak browsing situs-situs provokatif dan cara-cara merakit bom sehingga mereka menjadi jarang browsing hal-hal yang lebih berguna; misalnya resensi film, torrent album classic rock, ataupun JAV.

Khusus mengenai penangkapan di Temanggung, kejadian yang terasa dramatis bagi banyak orang karena kejadian tersebut ditayangkan secara langsung oleh Metro TV dan TV One. Kedua televisi itu menyajikan detik-detik atau lebih tepatnya jam-jam terjadinya pengepungan rumah kecil di tepi bukit di sebuah kampung di Temanggung. Siaran langsung kejadian waktu itu memperkuat fakta bahwa kedua televisi ini tengah berlomba menjadi yang terbaik di negeri ini dalam segmen televisi khusus berita. Melihat pertarungan kedua televisi itu menyajikan berita untuk meraih rating Nielsen terbaik seperti menyaksikan televisi-televisi lainnya bertarung menyajikan sinetron dan reality show.

Kejadian kedua yang saya ingat sehubungan dengan tewasnya Syaifuddin Zuhri dan Mohammad Syahrir adalah kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung 27 Maret 2009. Kejadian tersebut menyebabkan banyak nyawa melayang, dan ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Saya ingat bahwa beberapa minggu setelah jebolnya tanggul Situ Gintung, macet total melanda Ciputat Raya, jauh sekali efeknya sampai ke PIM dan Arteri PI dan Pondok Cabe dan Pamulang. Lokasi dipenuhi puluhan ribu warga dari segala penjuru yang ingin melihat langsung lokasi kejadian. Wisatawan bencana datang melancong dengan seluruh anggota keluarga. Dengan mobil pick up atau minibus penuh sesak ataupun motor yang ditumpangi lengkap berisi ayah, ibu, dan beberapa anaknya.

Pada masa itu pula, lokasi yang masih penuh lumpur dan reruntuhan bangunan harus menerima kunjungan banyak calon legislatif daerah setempat, masing-masing tentunya lengkap dengan belasan dayang-dayang berartibut partai masing-masing. Tidak ketinggalan para calon presiden berkunjung melihat dari dekat lokasi jebolnya tanggul Situ Gintung yang pada masa pendudukan Belanda dibangun dengan membuat tanggul dari tanah padat, dengan pintu airnya saja yang diperkuat batu dan cor semen.

Yah begitulah. Tewasnya Syaifuddin Zuhri dan Mohammad Syahrir di Ciputat membuat saya teringat pada dua rangkaian kejadian terdahulu. Peledak bom adalah teror kematian, dan setelah meledakkan bom, teror kematian itu bersembunyi. Teror kematian bersembunyi di tempat-tempat yang tak terduga. Di ujung kampung dimana mobil hanya sesekali saja lewat, ataupun di tengah kota di balik jalan utama dimana sering terdengar sirene voorijder membuka jalan bagi orang penting sekaligus menutup jalan bagi orang kebanyakan. Dan Jumat kemarin, telah tewas teror kematian yang bersembunyi di Ciputat, kurang dari satu kilometer tempat saya tinggal.

Lokasi kos tukang bom dan lokasi Situ Gintung dekat dengan rumah saya di kawasan Ciputat. Lokasi kos kedua tukang bom tersebut berjarak kurang lebih satu kilometer dari tempat saya tinggal, sementara Situ Gintung jaraknya lebih dekat lagi. Kedua kejadian tersebut menyadarkan saya bahwa kematian begitu dekat. Yang satu adalah dua fundamentalis yang piawai merakit bom sedang bermain kucing-kucingan dengan pulisi, dan yang lainnya adalah bahaya laten bendungan usang dari zaman Belanda yang membentuk Situ Gintung.

Kedua kejadian tersebut meningkatkan popularitas Ciputat. Coba saja bandingkan hasil pencarian kata kunci Ciputat pada kurun waktu tahun 2008, dan kata kunci yang sama pada tahun 2009 lewat mesin pencari situs Internet, seperti Google. Meningkat hampir dua kali lipat bukan? Padahal 2009 baru sampai Oktober. Terima kasih kepada kelalaian pemda terhadap uzurnya bendungan Situ Gintung dan tewasnya dua ahli bom di kamar kos mahasiswa UIN, nama Ciputat lebih banyak ditulis pada tahun ini.

Betul sekali. Kematian mengintai, dari balik kamar kos, di antara plastik bekas bungkus mi instan dan kaos-kaos tak tercuci di jemuran. Dari dasar danau yang tenang tempat kita biasa memancing menepis penat. Dan dari asap rokok yang membuai sebagai teman pergaulan. Ah, untunglah saya sudah berhenti merokok. BTW, Sudahkah Anda berdoa untuk keselamatan Anda dan sanak saudara hari ini?

Oh ya, semoga kawasan daerah tempat tinggal Anda dikenal karena kejadian atau kenyataan yang baik-baik saja.

3 thoughts on “ciputat di antara situ gintung dan suspek teroris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s