BungaMatahari dan Kejutan Puisi Bioskop

Baca puisi di lingkungan bioskop? Hal itu sebelumnya, tapi sepanjang hari sabtu 22 Maret 2008 kemarin telah dilakukan BungaMatahari dengan lancar untuk membuat khalayak penonton film di bioskop tersebut terperangah.

Tahun 2008 ini, dalam rangkaian Printemps de Poetes di Prancis, kali ini Pusat Budaya Prancis, CCF Jakarta menawarkan kerjasama kepada komunitas puisi BungaMatahari untuk membuat sesuatu di lingkungan Jakarta sebagai ejawantah semangat Printemps de Poetes, musim semi bagi puisi yang telah menjadi kalender acara tahunan di Prancis. Bagi BungaMatahari dan CCF Jakarta, ini adalah kerjasama yang kedua setelah acara di Gambir tahun lalu. Tahun lalu acara berlangsung di Stasiun kereta Gambir, di mana pembacaan puisi berlangsung bersamaan dengan pameran beberapa puisi visual.

Setelah beberapa kali pertemuan, BungaMatahari, atau untuk mempersingkat ruang dan waktu kita singkat saja menjadi BuMa, memutuskan untuk membuat sesuatu. Apa itu? Kejutan. Kejutan untuk publik di suatu tempat yang hadir di suatu tempat bukan untuk puisi. Inti ceritanya adalah kejutan. Kali ini BuMa kembali bekerjasama dengan gendangan Otak and Chair, inisiatif empat pemuda gempal yang gemar menabuh gendang dan membiarkan satu rekan mereka bertutur cerita mengikuti irama tetabuhan. Pada dasarnya, sebagian dari penggagas Otak and Chair juga aktif dalam kegiatan BuMa.

Setelah beberapa surat elektronik, beberapa teks pesan pendek, dan beberapa kali pertemuan, Blitz Megaplex Grand Indonesia bersedia menjadi tempat berlangsungnya rencana acara yang telah disusun. Tempat sudah dapat. Mari kita bereskan hal-hal lainnya.

Tahap awal. puisi puisi yang tersedia untuk acara ini dicetak di atas desain kertas berwarna kuning dan ditempelkan di dinding dinding kamar kecil bioskop tersebut. temanya adalah eulogi untuk seseorang… puisi-puisi yang di pampangkan di lembaran-lembaran tersebut adalah milik George Brassens, Victor Hugo dari perancis, dan Seti Iwan, Mikael Johani, Lukiluka, Anya Rompas, Gema, Yoshi F dari BuMa yang nota bene adalah orang Indonesia.

Berbeda dengan kegiatan-kegiatan BuMa sebelumnya, dalam acara ini pengumuman preliminasi acara ini sangat dibatasi, dan kalaupun ada hanya memberikan informasi yang sangat terbatas. Hal ini dilakukan untuk mendukung tema kejutan yang mendasari ide acara kali ini.

Puisi di kamar kecil? Puisi adalah hal yang pribadi. Bagi sebagian besar penyair, mendedahkan isi puisi hasil karyanya secara transparan terasa seperti menguliti isi hati dan menelaah tiap selnya, seperti mengupas sebuah ide yang telah terbungkus rapi oleh kata-kata dan tutur rima yang saling-silang. Kamar kecil juga hal yang pribadi. Saat di kamar kecil adalah saat penuh kontemplasi. Di kamar kecil laki-laki dan kamar kecil perempuan di bioskop inilah, para pengunjung berhadapan dengan coretan-coretan eulogi yang telah terpampang. Kejutan kecil kami lakukan di sini.

Selain di dinding-dinding kamar kecil, puisi-puisi yang terpilih tersebut juga tertayang di media layar video di lorong koridor menuju studio-studio bioskop. Pada salah satu sisi koridor kanan dan koridor kiri bioskop tertanam total delapan buah layar video dimana salinan lunak poster-poster film yang sedang di putar di bioskop tersebut muncul dalam beberapa saat secara bergantian. Salinan lunak puisi-puisi pilihan yang sama juga muncul sesekali di antara poster-poster film. Puisi yang ditulis ulang dalam kop printemps de poetes berwarna kuning muncul sesekali di antara poster Indiana Jones yang filmnya baru akan diputar beberapa bulan ke depan dan poster film beranak dalam kubur versi Muangthai.

Pihak CCF Jakarta juga telah menyiapkan cetakan-cetakan puisi karya penyair Prancis dalam kopi A5 yang di sisi belakangnya terpampang tafsir puisi tersebut dalam Bahasa Indonesia. Puisi-puisi tersebut dibungkus dalam ratusan kantong kain, dan wadah anyaman berwarna-warni. Puisi-puisi tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para pengunjung bioskop dan disediakan dalam kotak besar di tengah koridor bioskop supaya pengunjung bebas mengambil kantong-kantong itu. Yang menarik adalah bahwa beberapa pengunjung menolak menerima tawaran kantong tersebut dan baru mengambil kantong itu ketika dijelaskan ulang bahwa kantong-kantong tersebut adalah hadiah gratis.

Itulah puisi-puisi yang dipaparkan dalam yang berbentuk tulisan, berupa poster-poster di kamar kecil, berupa paparan tayangan di layar video, dan dalam kertas kecil dibungkus kantong lucu. Selain itu, BungaMatahari juga mempersiapkan penampilan yang agak berbeda dengan pembacaan puisi yang telah kami lakukan pada waktu-waktu terdahulu.

BuMa dalam acara ini melakukan acara baca puisi di lingkungan bioskop. Untuk memberikan sebuah pengalaman yang baru, BuMa memutuskan untuk melakukan pembacaan puisi yang dengan cara yang belum pernah kita lakukan. Para penampil dari BuMa dengan iringan perkusi dari Otak and Chair muncul dalam durasi-durasi yang singkat, hanya antara satu atau dua puisi pada tiap penampilan. Semua penampil menggunakan pakaian hitam atau putih dan dengan topi fedora hitam dan topeng putih.

Puisi-puisi yang dibacakan adalah karya Victor Hugo dari Perancis, karya Mikael Johani dan Gema dari BuMa, dan reintepretasi lagu karya grup musik C’mon Lennon. Karya Victor Hugo yang diangkat adalah ‘Kedua Putriku’, sebuah karya kontemplasi yang direka ulang dan dibawakan sebagai karya dwi bahasa dan sebuah pandangan mata yand dituturkan secara bersemangat diiringi tingkah perkusi. Kalau Victor Hugo masih sehat walafiat, ia tidak akan mengira bahwa karyanya akan direka ulang dengan cara ini. ‘Cinta Adalah Kesedihan yang Ditimbulkan Sendiri’ adalah reinterpretasi Mikael Johani atas kisah sinematik Korea (yang kemudian dipinjam oleh Hollywood) tentang hubungan cinta lintas ruang waktu. ‘Jimmy Machin’ adalah eulogi Gema untuk seorang biduan sekaligus penyair ternama kelahiran Amerika yang telah beristirahat untuk selamanya di Pere Lachaise, Paris. ‘Aku Cinta Jakarta’ ditulis oleh kolektif musical C’mon Lennon beberapa tahun silam sebagai lambing cinta mereka akan kota dan sepakbola yang telah membesarkan mereka.

Tiga orang penabuh jembe dan seorang pemandu masuk terlebih dahulu langsung menempati posisi di depan mikrofon, dilanjutkan oleh beriringan masuknya para pembaca puisi yang terdiri dari satu atau dua pembaca utama dan belasan pendukung pembacaan puisi yang bertindak selaku paduan suara. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa perkenalan, pembacaan puisi dilakukan. Waktu yang dipilih adalah beberapa menit sebelum para penonton memasuki studio berbeda untuk menyaksikan film pilihan mereka masing-masing, karena pada saat-saat itulah koridor bioskop kepadatannya meningkat. Setelah pembacaan puisi selesai, semua penampil meninggalkan ruangan tanpa pamit untuk langsung masuk ke ruang ganti yang telah disediakan untuk melepas topeng dan topi. Mereka kemudian meninggalkan ruang ganti untuk kembali ke koridor seperti seakan-akan tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Aksi yang sama kembali dilakukan satu atau satu setengah jam berikutnya, ketika penumpukan penonton di koridor terjadi. Dari siang sampai sore hari itu, aksi kejutan puisi telah sukses dilakukan sebanyak lima kali.

Acara ini tidak mungkin akan terlaksana tanpa penampilan nekat Festi, Anya, Metta, Ani, Yoshi, Donni Said, Anita, Esti, Mona, Mega, Anggin, Rio, Avi, Maya, Maria, Gema, serta Otak and Chair (Uga, Acha, Aan, Isan). Dengan dukungan penuh CCF Jakarta dan Blitz Megaplex Grand Indonesia; bantuan le Kioske, dan Whatz Up; juga iringan bertalu-talu Otak and Chair, BungaMatahari telah melewati rangkaian kejutan puisi dengan aman, lancar, dan terkendali. Semua bisa berpuisi, termasuk koridor gedung bioskop.

Untuk lebih banyak foto lagi, simak halaman mettabeluw, sprechensie, dan simplyfesti.

22 thoughts on “BungaMatahari dan Kejutan Puisi Bioskop

  1. mettabeluw said: berikutnya: baca puisi di trans jakarta? bagaimana rekan yoshi?

    puisi di trans jakarta? silahkan aja… apa yang menahan kamu….. kalo di trans jakarta mah aman2 aja… kalo di busway…. awas ketabrak!

  2. sayayoshi said: Yang menarik adalah bahwa beberapa pengunjung menolak menerima tawaran kantong tersebut dan baru mengambil kantong itu ketika dijelaskan ulang bahwa kantong-kantong tersebut adalah hadiah gratis.

    kaum urban jakarta kan biasa dengan segala sesuatu yang serbabayar. jadi rasanya mungkin seperti mimpi saja, kalau ada yang bilang ‘ini gratis, kok bu/pak/mas/mbak’. Musti berkali-kali diyakinkan kalau yang gratis juga bisa nyata, kwqkwkq

  3. gharonk said: wah sayang saya tak pernah berkesempetan ikutan acara BuMa yah…mungkin lain hari lain waktu lain peruntungan..

    yang penting dalam buma selain peruntungan adalah ketekunan dan keuletan.

  4. dinyah said: kaum urban jakarta kan biasa dengan segala sesuatu yang serbabayar. jadi rasanya mungkin seperti mimpi saja, kalau ada yang bilang ‘ini gratis, kok bu/pak/mas/mbak’. Musti berkali-kali diyakinkan kalau yang gratis juga bisa nyata, kwqkwkq

    temen2 di meja sempet becandaan…. “sore kak, silahkan gee-your-dandy nya, kak!”

  5. pokoknya kalau ada acara baca puisi, undang aku n aku akan ngundang teman2ku sesama pecinta puisi semacam : sihar ramses simatupang, imam muhtarom, ribut wijoto, dll….salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s