Lewati navigasi

Arsip Bulanan: Juni 2012

Lewat Djam Malam (1954)

Sutradara: Usmar Ismail

Cerita: Asrul Sani

Produser: Usmar Ismail, Djamaluddin Malik

Pemeran: Dhalia, AN Aclaff, Netty Herawati, Bambang Hermanto

Berkat kicauan beberapa rekan di timeline saya dengan tanda pagar #LewatDjamMalam, berangkatlah saya dan @onengan ke bioskop untuk nonton film ‘Lewat Djam Malam’ produksi 1954. Di tahun 2012, adalah sebuah kesempatan yang langka untuk bisa nonton film kuna kayak begini. Berkat usaha semua pihak yang berjasa melakukan restorasi, film ini bisa dinikmati oleh kalangan yang luas dari hanya pengunjung perpustakaan film Sinematek, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta. Ya! Film ini adalah karya Usmar Ismail, tokoh penting film Indonesia.

‘Lewat Djam Malam’ telah sukses meraih beberapa penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 1955. Setelah selesai direstorasi, film ini telah diputar di Singapura dan Cannes, Prancis. Sekarang, saatnya publik di Jakarta dan Bandung. Untuk teman-teman yang berada di luar area kedua kota tersebut, coba rembukan dengn rekan-rekan dan cari info untuk memutarkan film ini di kota Anda.

Latar waktu ‘Lewat Djam Malam’ …

Baca Lebih Lanjut »

“Tiji tibeh, mati siji, mati kabeh, mukti siji, mukti kabeh”

Matah Ati adalah karya yang sebaiknya tidak dilewatkan karena saking kerennya. Dengan nama-nama seperti Atilah Soeryadjaja sebagai konseptor / penulis naskah / sutradara; Jay Subyakto sebagai penata artistik; dan Inet Leimena sebagai penata acara;   jaminan mutu bahwa tontonan ini akan elegan dan enak ditonton.

Matah Ati bercerita tentang Rubiyem, yang kemudian mendapat julukan ‘Matah Ati’. Matah Ati dengan pasukan prajurit perempuan kemudian bersama laskar ‘Pangeran Sambernyawa’ Raden Mas Said, melawan VOC Belanda dan tentara lokal yang mendukung mereka.

Matah Ati merupakan hasil renungan Atilah setelah membaca salah satu judul di koran negara tetangga, “Solo is heaven for terrorist”. Hati wong solo ini tercabik dan membuatnya bertekad bikin sesuatu untuk menampilkan unsur Surakarta /Solo yang kaya seni dan budaya adiluhung. Kemudian ia berangkat mengangkat kisah Matah Ati yang merupakan salah satu cerita dari Pura Mangkunegaran. Cara bertutur Matah Ati berdasar pada konsep Langendriyan (Opera Jawa) yang dahulu dirancang oleh Mangkoenegoro IV dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.

Nah …

Baca Lebih Lanjut »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.