Met pagi dini hari tweeps rekan-rekan sekalian, ini saatnya untuk catatan terakhir di 2010. Tadinya saya ingin bercerita tentang film-film yang saya tonton 2010 ini. Tapi ah, gak penting … mari bercerita tentang kehidupan (seperti tergambar di Twitter), … halaaaah berat pisan. Ditemani tembang-tembang nyaman karya Bedouin Soundclash saya mulai menulis.
Izinkan saya mengulang judul, seperti yang sering diucapkan orang-orang tua dan orang muda juga;
“Hidup, Jodoh, dan Mati di tangan Tuhan (di mata Twitter)”
Manusia berbagi.
Homo Partio (diterjemahkan secara ngawur dengan bantuan Google Translate)
Seperti yang dikatakan @jack, @ev dan @biz sejak awal, bahwasanya @Twitter yang mereka rancang bersama adalah untuk berbagi informasi. Tentang apa yang sedang terjadi, apa yang orang lakukan, dan atau apa yg sedang dirasakan oleh orang yang mengirimnya. Dan lalu Twitter bertambah terus penggunanya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan membentuk norma-normanya sendiri, seperti RT yang disalahpahami sebagai reply dan lain sebagainya.
Karena kita sangat senang sekali berbagi dan Twitter menjadi sarananya. Berbagi rasa, #IndonesiaUnite. Berbagi celetukan, #AnjingGombal. Berbagi kegeraman dalam harapan, #NurdinTurun. Berbagi apa saja, dari berbagi kerinduan akan combro sampai berbagi keinginan untuk kentut saat ada di lokasi dan situasi yang tidak kondusif (untuk cepirit) … singkat kata, berbagi kehidupan. Tentunya, termasuk hidup, jodoh, dan mati. Kita mengirimkan salam dan ucapan suka atau duka lewat Twitter. Bersama dengan BBM, Twitter jadi faktor makin sedikitnya orang berkirim kartu ucapan hari raya. Baca Lebih Lanjut »


