Sore itu sekitar jam empat. Sudut kantor dekat meja kerja saya dipenuhi oleh rekan-rekan kerja yang berkerumun di jendela. Kantor saya terletak di lantai tiga sebuah gedung di Jakarta Selatan. Mereka berkerumun seperti takjub akan sesuatu. Dan ternyata mereka sedang mengamati pelangi. Setengah lingkaran. Sangat jarang kita dapat temui. Saya jadi ikutan takjub oleh pelangi. Pelanginya indah sekali di sisi timur jakarta. Sementara itu di sisi barat Jakarta, langit mendung kelabu seperti mengalah dengan awan jingga menemani matahari yang akan pulang beristirahat waktu Maghrib. Yang biasanya hanya kita lihat di kalender terbitan bank-bank terkemuka atau majalah-majalah wisata dan ilmu pengetahuan alam. Benar-benar pemandangan langit yang tidak biasa. Indah sekali.
Sore itu sekitar jam empat. Hujan baru saja reda. Langitnya masih terang. Saat yang sempurna untuk pelangi menampakkan dirinya. Rekan-rekan kerja menghadap jendela sembil mencoba mengambil pemandangan indah tersebut dengan fasilitas kamera dari ponsel genggam masing-masing. Yang punya kamera SLR dapat dengan lebih leluasa mengatur ukuran tangkapan cahaya kamera supaya gambar yang tertangkap lebih sempurna.
Mengamati dua fenomena alam yang sedap dipandang sore itu, saya jadi ingat dua buah lagu sekaligus. “Ku lihat pelangi, di pagi sore hari.” yang digubah Koes Plus dan kembali dipopulerkan oleh Netral. “With tangerine trees and marmalade skies”, tembang giting karya The Beatles. Ah, mereka memang bisa-bisanya bikin lagu bagus. Saya juga jadi ingat “Sepotong Senja untuk Pacarku” karya Seno Gumira Ajidarma. Ah, dia emang bisa-bisanya bikin cerpen bagus.



